Sektor Tekstil Disebut Sunset Industry, Kemenperin: Keliru

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

    Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Muhammad Khayam menyebut anggapan tekstil sebagai sunset industry adalah keliru. Sebab, sektor tersebut sejatinya adalah penyumbang besar perekonomian Indonesia.

    "Dia adalah salah satu penyumbang besar, mungkin terbesar untuk satu sektor. Ekspor dalam pakaian jadi sendiri, tekstil sendiri, kulit dan alas kaki itu besar. Jadi anggapan sunset industry itu keliru," ujar Khayam di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu, 30 Oktober 2019

    Yang jadi persoalan, kata Khayam, anggapan sunset industry itu terlanjur bergaung pelaku industri tekstil dan produk tekstil, salah satunya ke sektor pembiayaan. Imbasnya, pemain TPT lokal pun kesulitan mendapat pinjaman dari industri keuangan.

    Untuk menanggulangi anggapan tersebut, Khayam mengatakan pihaknya sudah berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan terkait. Bahkan ia menyebut telah ada kelompok kerja bersama Bank Indonesia untuk mendorong pembiayaan ke sektor TPT.

    "BI sudah mengubah mindset mereka sendiri," ujar Khayam. "Kita enggak bisa sendiri, makanya kami menggandeng BI dan Otoritas Jasa Keuangan juga."

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, laju pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi di dalam negeri terus mengalami peningkatan dan mencapai 20,71 persen hingga triwulan II 2019. Pada periode yang sama 2018 lalu, angka tersebut hanya di level 8,73 persen. Kontribusi indsutri tekstil dan pakaian jadi terhadap PDB juga cenderung membaik enjadi 6,68 persen pada triwulan II 2019.

    Kendati, pertumbuhan pangsa pasar TPT Indonesia di pasar global cenderung stagnan di kisaran 1,5 persen. Angka pertumbuhan tersebut jauh ketinggalan dari Cina yang mencapai 31,8 persen, serta dua negara pesaing utama Indonesia, Vietnam dan Bangladesh yang tumbuh masing-masing 4,59 persen dan 4,72 persen pada tahun 2018.

    Direktur Program Indef Esther Sri Astuti mengatakan industri TPT Indonesia sempat memasuki era kejayaannya pada tahun 1980-an. Perdagangan Industri ini pun pernah mencatatkan surplus hingga US$ 7,8 miliar, melonjak dari US$ 5,2 miliar pada 2001.

    Namun, kondisi tersebut berbalik pada periode 2008-2018, dan berpotensi berlanjut hingga beberapa tahun mendatang. Pada 2008, surplus industri ini hanya menembus angka 5,04 miliar dan pada 2018 menurun drastis ke US$ 3,2 miliar. "Penyebab utamanya adalah gempuran tekstil impor yang berasal terutama dari Tiongkok," ujar Esther.

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.