Kabinet Jokowi Jilid II, Ekonom: Harus Diisi Profesional

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kabinet Kerja mengikuti Sidang Kabinet Paripurna yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Negara, Jakarta, Kamis 3 Oktober 2019. Menurut Jokowi, dalam lima tahun ini banyak yang telah dilakukan para menteri dalam memajukan serta membangun Indonesia. TEMPO/Subekti.

    Menteri Kabinet Kerja mengikuti Sidang Kabinet Paripurna yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Negara, Jakarta, Kamis 3 Oktober 2019. Menurut Jokowi, dalam lima tahun ini banyak yang telah dilakukan para menteri dalam memajukan serta membangun Indonesia. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Next Policy Fithra Faisal Hastadi mengusulkan sejumlah syarat kepada Presiden Joko Widodo dalam meramu jajaran Kabinet Jokowi Jilid II. Menurut dia, susunan kabinet Jokowi itu menjadi hal yang ditunggu oleh masyarakat, tak terkecuali para pelaku ekonomi.

    Menurut Fithra, Jokowi mesti mengisi kabinetnya, khususnya bidang bidang ekonomi dan sektor riil, dengan para profesional. "Sosoknya harus profesional dan diterima pasar," ujar Fithra, yang juga ekonom dari Universitas Indonesia itu, di Hotel Sofyan, Jakarta, Kamis, 17 Oktober 2019.

    Fithra mengatakan profesional bukan berarti tidak terafiliasi dengan partai politik. Ia mengatakan bisa jadi calon menteri ini tergabung parpol namun tetap merupakan profesional.

    Lebih lanjut, dia mengaku memaklumi adanya kompromi-kompromi antara Jokowi dengan partai pendukungnya dalam pembentukan susunan pembantu presiden lima tahun ke depan. Bahkan Fithra menyebut semakin banyak anggota partai yang masuk kabinet akan lebih bagus.

    "Karena akan lebih stabil politiknya," tutur dia. Di samping itu Fithra menyarankan sosok menteri Jokowi yang bisa menggaet para pemodal untuk masuk ke tanah air. "Bagaimana investor ketika melihat itu dan nyaman mereka akan masuk berinvestasi."

    Adapun pada periode pertama, Fithra mengatakan kinerja kementerian bidang ekonomi Jokowi sudah cukup baik. Ia mengatakan persoalan selama lima tahun ini berada di sektor riil, misalnya industri, perdagangan, pertanian, hingga Badan Usaha Milik Negara.

    Sebelumnya, Jokowi mengatakan telah menyelesaikan susunan menteri Kabinet Kerja Jilid II. Ia meminta masyarakat sabar menunggu pengumuman resminya.

    "Yang jelas, susunan kabinet untuk pemerintahan periode mendatang sudah rampung. Saya akan umumkan segera setelah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI 2019-2024 pada 20 Oktober, bisa di hari yang sama, atau setelahnya," kata Jokowi di akun Instagram resmi miliknya, Kamis, 17 Oktober 2019.

    Menurut Jokowi, para menterinya ke depan berasal dari berbagai macam latar belakang. Ia menuturkan mereka adalah orang berkompeten dan siap mengabdi."Mereka terserak di semua bidang pekerjaan dan profesi: akademisi, birokrasi, politikus, santri, juga TNI dan polisi. Tidak sulit menemukan mereka," ujar mantan gubernur DKI Jakarta itu.

    Jokowi bercerita ia membaca sejumlah versi bocoran nama-nama menteri yang beredar di publik. Ia membaca untuk memastikan apakah susunan menteri benar-benar bocor atau tidak. "Saya sendiri membacanya dengan antusias kalau-kalau itu benar adalah bocoran," kata dia diikuti emoji senyum.

    Hingga kini nama-nama menteri kabinet Jokowi jilid II masih misteri. Koran Tempo edisi Senin, 14 Oktober 2019, menulis Presiden Jokowi dikabarkan bakal mengisi kabinetnya yang baru dengan sejumlah wajah lama.

    Mereka yang akan lanjut antara lain Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Sri Mulyani, Kepala Staf Presiden Moeldoko, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basoeki Hadimoeljono, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.