Selamatkan Neraca Perdagangan, Sri Mulyani Berharap pada Trump

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi mendatangi pusat logistik berikat (PLB) Dunia Express Sunter, Jakarta, Jumat, 4 Oktober 2019. Sri Mulyani menjelaskan, kunjungan ini berkaitan kabar yang menyebut bahwa PLB menjadi celah kebocoran impor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang membuat Indonesia banjir tekstil impor.Tempo/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi mendatangi pusat logistik berikat (PLB) Dunia Express Sunter, Jakarta, Jumat, 4 Oktober 2019. Sri Mulyani menjelaskan, kunjungan ini berkaitan kabar yang menyebut bahwa PLB menjadi celah kebocoran impor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang membuat Indonesia banjir tekstil impor.Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap kondisi neraca perdagangan Indonesia membaik. Salah satunya, ia ingin penurunan ekspor yang dialami Indonesia dalam beberapa waktu belakangan bisa terus mengecil.

    "Harapan sekarang ini semoga ada keputusan interim antara Trump (Presiden AS Donald Trum) dan RRT (Cina). Mungkin ini juga akan memberikan dampak positif. Sehingga nanti kita lihat ya," ujar Sri Mulyani di Kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019.

    Pada impor, Sri Mulyani melihat adanya pelemahan pada kondisi kegiatan di dalam negeri. Ia meyakini angka impor akan sejalan dengan tren tersebut. "Impor ini juga menunjukkan leading indikator, jadi yang selama ini sudah negatif itu menggambarkan mereka juga akan mengurangi stok atau mungkin juga pengaruhnya kepada growth," tutur dia. "Jadi nanti kita lihat dari sisi neraca perdagangannya."

    Meski demikian, Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah tidak melakukan proyeksi terhadap hasil neraca perdagangan September 2019 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik pada hari ini, Selasa, 15 Oktober 2019. Ia hanya menyebut perkembangan perekonomian global masih diliputi ketidakpastian.

    "Kita sendiri di dalam negeri, Kita lihat dari komponen-komponen yang terpengaruh oleh dinamika global itu ekspor impor kita," kata Sri Mulyani.

    Badan Pusat Statistik atau BPSsebelumnya mencatat posisi neraca perdagangan pada Agustus 2019 mengalami surplus sebesar US$ 85,1 juta atau US$ 0,08 milIar.

    Kepala BPS Suhariyanto mengatakan neraca perdagangan terpengaruh oleh turunnya nilai impor migas dan non-migas yang tajam sepanjang Agustus.  “Ekspor memang turun turun, tapi impor turun lebih tajam,” ujar Suhariyanto di kantornya, Jakarta Pusat, Senin, 16 September 2019. 

    Secara kumulatif neraca perdagangan sepanjang Januari hingga Agustus masih mengalami defisit US$ 1,81 miliar. 

    CAESAR AKBAR | FRANCISCA CHRISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?