Resmi IPO, Startup Telefast Indonesia Fokus Garap Pasar SDM

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Emiten startup PT Telefast Indonesia Tbk akan fokus menggarap pasar sumber dana manusia (SDM) lewat penyediaan aplikasi karyawan dan pencari kerja.

    Direktur & CEO Telefast Indonesia Jody Hedrian menyampaikan, emiten anyar bersandi saham TFAS tersebut ingin menangkap peluang di pasar atau bisnis yang terkait dengan SDM. “Saat ini, untuk SDM belum banyak yang mendigitalisasi, mengupayakan SDM ini terdigitalisasi dan terintegrasi. Di sini kami melihat, ada peluang besar dengan melakukan pengembangan dari sisi IT, yaitu aplikasi,” ujarnya di Jakarta, Selasa, 17 September 2019.

    Adapun, sejauh ini TFAS memiliki empat lini usaha, yaitu distributor produk telekomunikasi dengan area pemasaran di Banten dan Jawa Tengah, aplikasi HR-Ku yaitu layanan Human Resource Information System (HRIS) berbasis cloud, platform digital Bilik Kerja, dan outsourcing SDM lewat anak usahanya PT Emitama Wahana Mandiri.

    Perseroan yang baru melantai di BEI dengan melepas 416,66 juta saham dengan harga saham dalam penawaran umum perdana saham (IPO) senilai Rp 180 ini mengantongi total dana senilai Rp74,99 miliar.

    Saham TFAS dicatatkan di BEI pada Selasa (17/9/2019) dan langsung melejit 70 persen ke level Rp 306 ketika perdagangannya dibuka.

    Jody mengatakan dana hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja atau pengembangan bisnis sebesar 70 persen, belanja modal untuk pengembangan teknologi infrastruktur sebesar 25 persen, dan investasi sumber daya manusia (SDM) perseroan sebesar 5 persen.

    Untuk modal kerja, perseroan akan menggunakan untuk pengembangan aplikasi HR-Ku dan Bilik Kerja. Namun, tak menutup kemungkinan pula bahwa perseroan akan mengembangkan aplikasi lain yang lebih inovatif ke depannya.

    Dengan demikian, TFAS menargetkan penjualan pada tahun ini sebesar Rp 687 miliar, naik 10,96 persen dari posisi pada tahun lalu senilai Rp 619,11 miliar.

    Per Maret 2019, perseroan telah mencatatkan penjualan senilai Rp134,16 miliar.

    Selanjutnya, laba tahun ini ditargetkan senilai Rp 19,7 miliar, naik 4,28 persen dari posisi pada akhir tahun lalu senilai Rp 18,89 miliar. Per Maret 2019, tercatat laba sebesar Rp 5,40 miliar.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.