Kilang Saudi Diserang, Harga Minyak Melonjak jadi USD 66,18

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, JakartaHarga minyak melonjak pada hari ini. Kenaikan harga emas hitam itu terjadi setelah serangan drone terhadap kilang minyak milik Saudi Aramco pada Sabtu pekan lalu.

    Hingga pukul 11:22 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate meroket 8,52 persen atau 4,68 poin ke posisi US$ 59,48 per barel, sedangkan harga minyak mentah Brent naik 9,90 persen atau 5,97 poin ke posisi US$ 66,18 per barel.

    Harga minyak Brent sempat naik 19,5 persen pada pukul 10:43 WIB, lompatan terbesar sejak 14 Januari 1991. Sementara WTI sempat melonjak 15,5 persen, kenaikan terbesar sejak 22 Juni 1998.

    Serangan drone terhadap dua fasilitas kilang milik Saudi Aramco di Abqaiq, Arab Saudi, terjadi pada Sabtu pekan lalu waktu setempat. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan dua pabrik di fasilitas Abqaiq, jantung industri minyak Saudi.

    Menurut pernyataan dari Saudi Aramco, akibat serangan itu produksi minyak kerajaan diperkirakan akan terpangkas sekitar 5,7 juta barel per hari (bpd), lebih dari setengah dari produksi secara keseluruhan. Seperti dikutip dari Reuters, sebuah sumber yang dekat dengan masalah ini mengatakan bahwa pemulihan kapasitas minyak itu bisa memakan waktu berminggu-minggu, bukan hari.

    Sumber lain mengungkapkan, ekspor minyak Arab Saudi akan berlanjut seperti biasa minggu ini. Dalam hal ini kerajaan memanfaatkan stok dari fasilitas penyimpanannya yang besar. "Bagaimana Amerika Serikat dan Arab Saudi menangani situasi akan diawasi dengan ketat oleh pasar," kata Margaret Yang, analis pasar di CMC Markets di Singapura.

    Dia menambahkan, jika harga minyak yang lebih tinggi, negara Asia yang bergantung pada minyak Asia seperti Cina, Jepang, India, Korea Selatan dan Filipina akan mulai merasakan dampaknya. "Harga energi yang lebih tinggi dan harga bahan baku menambah beban biaya," kata Yang.

    Presiden AS Donald Trump menyatakan setuju dengan rencana pelepasan minyak dari Cadangan Minyak Strategis AS (SPR) jika diperlukan dalam jumlah yang harus ditentukan karena serangan itu.

    Serangan terhadap pabrik di jantung industri minyak Arab Saudi, termasuk fasilitas pemrosesan minyak terbesar di dunia di Abqaiq, datang dari arah Iran. Menurut pejabat senior AS, rudal jelajah kemungkinan telah digunakan untuk serangan itu. Laporan awal mengindikasikan serangan itu datang dari Yaman.

    ANZ Research mengatakan dalam sebuah catatan, setiap ekspektasi yang dimiliki pasar tentang sanksi pelonggaran AS terhadap Iran, setelah pemberhentian John Bolton oleh Presiden Trump akan segera hilang. "Ini akan membuat minyak mentah Brent menguji tanda US$70 per barel dalam jangka pendek,” kata ANZ Research.

    Konsultan Energy Aspects dalam sebuah catatan menyatakan, Arab Saudi akan menjadi pembeli signifikan produk olahan setelah serangan itu. Saudi Aramco kemungkinan akan membeli sejumlah besar bensin, solar, dan kemungkinan bahan bakar minyak sambil memotong ekspor gas minyak cair.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.