Rampungkan Perjanjian Free Trade, Luhut Minta Bantuan Uni Afrika

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan rangkuman hasil pertemuan G20 di kantornya, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 2 Juli 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan rangkuman hasil pertemuan G20 di kantornya, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 2 Juli 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, JakartaMenteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meminta Uni Afrika membantu Indonesia menyelesaikan kesepakatan perjanjian perdagangan bebas dengan sejumlah negara di Afrika. Pasalnya ia mengatakan banyak perusahaan-perusahaan Indonesia yang tertarik berinvestasi di Afrika seperti perusahaan-perusahaan energi dan infrastruktur tetapi masih ada hal-hal yang belum berjalan mulus.

    “Kami meminta Anda untuk membantu kami dalam menyelesaikan kesepakatan perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia-Mozambik dan Indonesia-Kenya," kata Luhut seperti dikutip dalam keterangan tertulis Kemenko Maritim, Selasa malam, 20 Agustus 2019.

    Permintaan Luhut itu mengingat Utusan Khusus (Utsus) Uni Afrika Bidang Infrastruktur, Raila Amolo Odinga adalah mantan Perdana Menteri Kenya. "Saya harap Anda bisa memainkan peran anda dalam hal ini. Karena ini bisa membantu memuluskan hubungan perdagangan kedua negara," ucap Luhut.

    Hal itu disampaikan saat bertemu dengan Utusan Khusus (Utsus) Uni Afrika Bidang Infrastruktur, Raila Amolo Odinga di ajang Indonesia - Africa Infrastructure Dialogue (IAID) 2019 di Nusa Dua, Bali. Atas permintaan Luhut, Odinga berjanji akan membantu menyelesaikan hal ini.

    Menurut Luhut, Uni Afrika dapat menjadi pintu bagi banyak peluang kerjasama dengan negara-negara anggotanya, “Saya yakin peran Anda (Mr. Odinga) ini sangat penting sebagai Utusan Khusus Uni Afrika yang menghubungkan Indonesia dengan negara-negara Afrika," kata Luhut.

    Dalam kesempatan yang sama, Odinga mengatakan Uni Afrika memang berperan untuk mengharmonisasikan pembangunan infrastruktur di antara negara-negara anggotanya yang berjumlah 54 negara. Ia melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terbilang pesat membuat ia yakin Indonesia bisa menjadi rekan kerjasama pembangunan di benua tersebut.

    “Kami mengundang perusahaan-perusahaan Indonesia untuk berperan dalam pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, jembatan, jalur kereta api. Serta juga di bidang industri seperti industri petrokimia, tembaga, aluminium, obat-obatan dan lain-lain,” ujar Odinga.

    Ia juga mengajak perusahaan-perusahaan transportasi Indonesia di bidang kapal laut dan pesawat kecil. Karena itu, ia sempat disarankan oleh Luhut untuk berkunjung ke galangan kapal PT PAL dan melihat kemungkinan untuk pembelian pesawat produksi Indonesia, Propeller N-219.

    Menurut Odinga, pemerintah Kenya saat ini telah menetapkan apa yang mereka sebut sebagai 'Empat Agenda Besar' yaitu perumahan yang terjangkau, kesehatan, ketahanan pangan dan perindustrian.

    Ketika ditanya awak media ihwal kemungkinan lemahnya kemampuan finansial dari negara-negara Afrika, Luhut memastikan bakal ada proses penjajakan dahulu untuk melihat kemampuan mereka. “Tentunya tidak akan asal saja, kami akan melakukan penjajakan lebih dahulu," tutur dia. "Tapi yang sangat saya apresiasi adalah karena confidence mereka dengan Indonesia. Jujur saja dalam hal ini saya sangat surprise," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.