BI: Neraca Dagang Terdampak Pelambatan Ekonomi Global

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Direktur Pusat Program Transformasi BI Onny Widjanarko, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Eni V. Panggabean, Deputi Gubernur BI Ronald Waas, Direktur Departemen Hukum BI Imam Subarkah, dan Direktur Departemen Komunikasi BI Arbonas Hutabarat, saat mengisi acara Pelatihan Wartawan Ekonomi, di Bank Indonesia Semarang, 24 September 2016. Tempo/Destrianita

    (ki-ka) Direktur Pusat Program Transformasi BI Onny Widjanarko, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Eni V. Panggabean, Deputi Gubernur BI Ronald Waas, Direktur Departemen Hukum BI Imam Subarkah, dan Direktur Departemen Komunikasi BI Arbonas Hutabarat, saat mengisi acara Pelatihan Wartawan Ekonomi, di Bank Indonesia Semarang, 24 September 2016. Tempo/Destrianita

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia atau BI menyatakan bahwa neraca dagang Indonesia yang mengalami defisit sepanjang Juli 2019 terdampak kondisi pelambatan ekonomi global. Selain itu, neraca dagang yang defisit tersebut juga terimbas harga komoditas yang masih anjlok.

    "Kami memandang perkembangan neraca perdagangan Juli tidak terlepas dari pengaruh ekonomi global yang melambat dan harga komoditas yang belum naik, di tengah permintaan domestik yang masih solid," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis 15 Agustus 2019.

    Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat neraca perdagangan sepanjang Juli 2019 mengalami defisit sebesar US$ 63,5 juta atau sekitar Rp 889 miliar. Kondisi neraca dagang yang berasal dari kinerja ekspor dan impor itu, terpengaruh oleh impor minyak dan gas.

    BPS mencatat total nilai impor pada Juli 2019 mencapai sebesar US$ 15,51 miliar dan capaian ekspor sebesar US$ 15,45 miliar. Dengan kondisi itu, neraca perdagangan kumulatif dari Januari ke Juli 2019 mengalami defisit US$ 1,9 miliar.

    BI mencatat defisit tersebut dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan non migas. Penurunan itu disebabkan oleh ekspor dari nonmigas yang belum kuat di tengah impor non migas yang meningkat.

    "Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas yang membaik terutama disebabkan oleh kinerja ekspor migas yang meningkat," kata Onny.

    Onny menuturkan, neraca perdagangan migas pada Juli 2019 tercatat sebesar US$ 0,14 miliar. Angka tersebut, tercatat membaik jika dibandingkan dengan defisit pada bulan sebelumnya sebesar US$ 0,97 miliar.

    Adapun, perbaikan itu ditopang oleh peningkatan ekspor migas dari US$ 0,75 miliar US$ 1,61 miliar. Peningkatan ekspor migas ini, terjadi pada seluruh komponen baik hasil minyak, minyak mentah, maupun gas.

    Sementara itu, impor migas tercatat mencapai US$ 1,75 miliar. Jumlah impor tersebut tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan impor pada bulan sebelumnya yang mencapai US$ 1,71 miliar. Peningkatan impor migas terjadi pada komponen minyak mentah, sedangkan komponen hasil minyak dan gas mengalami penurunan.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.