Impor Produk Cina Naik Rp 21 T dalam Sebulan, Ini Kata Kemendag

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memindahkan puluhan ribu kilogram bawang putih dalam operasi pasar di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 31 Mei 2017. Sebanyak 29.500 kg bawang putih yang di import dari Cina akan dijual di jual dalam operasi pasar. TEMPO/Rizki Putra

    Petugas memindahkan puluhan ribu kilogram bawang putih dalam operasi pasar di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 31 Mei 2017. Sebanyak 29.500 kg bawang putih yang di import dari Cina akan dijual di jual dalam operasi pasar. TEMPO/Rizki Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Indrasari Wisnu Wardhana menyatakan masih ingin melihat detail penyebab terjadinya lonjakan impor non-migas dari Cina sepanjang Juli 2019. Ia belum bisa memastikan apakah penyebabnya lantaran nilai mata uang Yuan yang melemah, sehingga menyebabkan harga produk Cina lebih murah lagi.

    “Kami harus lihat, barangnya apa dulu,” kata Indrasari di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis, 15 Agustus 2019. Namun menurut Indrasari, impor seharusnya tidak bisa melonjak secara tiba-tiba karena pemesanan biasanya dilakukan jauh-jauh hari.

    Sebelumnya, Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat nilai impor Indonesia pada Juli 2019 mencapai US$ 15,51 miliar, atau naik 34,96 persen dibanding Juni 2019. Namun, Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, jika dibandingkan Juli 2018 nilai impor itu turun 15,21 persen."Kenaikan impor yang utama adalah untuk impor nonmigas," kata Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Kamis, 15 Agustus 2019.

    Di antara peningkatan impor ini, BPS mencatat impor non-migas tertinggi pada Juli 2019 berasal dari Cina. Jumlahnya kenaikannya mencapai US$ 1,5 miliar atau setara Rp 21,1 triliun (kurs rupiah Rp 14.100 per dolar AS). Dari semula US$ 2,6 miliar pada Juni 2019 menjadi menjadi US$ 4,1 miliar pada Juli 2019. Kondisi ini pun memburuk defisit neraca perdagangan antara Indonesia dan Cina menjadi US$ 11 miliar sepanjang tahun ini, meningkat dari periode sama tahun lalu yang hanya US$ 10 miliar.

    Sementara itu, nilai mata uang Yuan terpantau melemah dalam beberapa pekan terakhir,. Hingga 13 Agustus 2019, Yuan telah menyentuh level 7,02 yuan per dolar AS, atau melemah hingga 31 poin dari posisi 6,71 per US$ pada awal triwulan II 2019.

    Akibat melemahnya Yuan, barang-barang dari Cina harganya lebih murah bila diukur dengan dolar AS. Karena harganya murah, barang-barang impor dari Cina dikhawatirkan membanjiri pasar Indonesia.

    Lebih lanjut, Indrasari mengatakan tidak boleh gegabah menyebut barang Cina lebih murah karena devaluasi Yuan. “Kan semuanya beli dengan dollar, bukan dengan yuan, jadi kami harus lihat dulu,” kata dia.

    Meski begitu, pengusaha di Indonesia pun mulai merasakan produk Cina masuk Indonesia akibat melemahnya Yuan. “Sudah naik (jumlah barang Cina yang masuk), bisa dilihat di data Direktorat Jenderal Bea Cukai Cina,” kata Ketua Gabungan Ekspor Impor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno saat dihubungi pada Selasa, 13 Agustus 2019.

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.