Peternak Bagi-Bagi Ayam, Pedagang di Pasar Gede Sepi Pembeli

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembeli berjubel menikmati minuman Dawet Telaisih Bu Dermi di Pasar Gede, Solo. Tempo/Ahmad Rafiq

    Pembeli berjubel menikmati minuman Dawet Telaisih Bu Dermi di Pasar Gede, Solo. Tempo/Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Solo-Waktu sudah melewati tengah hari. Pasar Gede Hardjonagoro Solo sudah agak lengang dari pembeli. Tidak perlu berdesak-desakan untuk menyusuri lorongnya yang sempit. Di deretan pedagang daging ayam, para penjual masih setia menunggu pembeli.

    Lapaknya masih dipenuhi dengan daging ayam yang masih segar. "Baru terjual separuh," kata Hastuti, salah satu pedagang, Jumat 28 Juni 2019. Pagi tadi, dia membawa 40 kilogram daging ayam untuk dijual di pasar yang berada di kawasan bol kilometer Kota Solo itu.

    BACA: Harga Ayam Anjlok, Sultan HB X: Jangan Dijual Kalau Terlalu Murah

    Wajah Hastuti siang itu memang tidak cerah. "Biasanya jam sebelas siang dagangan sudah habis," katanya dengan sedikit menggerutu. Namun, hari ini, dilapaknya masih ada sekira 20 kilogram daging ayam meski jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB.

    Aksi para peternak yang membagi-bagikan ayamnya dituding menjadi biang keladi. "Masyarakat sudah dapat ayam, jadi tidak perlu beli ke pasar," katanya. Meski Pasar Gede ramai dikunjungi pembeli pada pagi hari, tidak banyak yang singgah ke los pedagang daging ayam.

    Sebenarnya, kata Hastuti, ada beberapa pembeli yang sempat singgah. "Tapi menawar dengan harga sadis," katanya. Banyak diantaranya yang tidak jadi membeli lantaran mengira pedagang mengambil untung terlalu banyak.

    "Banyak berita yang menyebutkan harga ayam di kandang Rp 8 ribu per kilo," katanya. Sedangkan para pedagang di Pasar Gede rata-rata menjual dagangannya seharga Rp 30 ribu per kilo. Hal itu yang membuat banyak pembeli di pasar menawar dengan harga sangat rendah.

    BACA: Dugaan Kementan Soal Penyebab Anjloknya Harga Ayam

    Padahal, pedagang di pasar mendapatkan ayam hidup dari pemasok dengan harga yang memang sudah cukup tinggi, sekitar Rp 17 ribu hingga Rp 20 ribu. Pedagang juga masih mengeluarkan ongkos untuk memotong, mencabut bulu dan membersihkannya. Beratnya pun menyusut hingga 25 persen. "Laba kami tidak banyak," katanya.

    Pedagang yang lain, Parinah mengatakan harga daging ayam di pasar sebenarnya cukup stabil. "Beberapa bulan ini harganya berada di kisaran Rp 30 ribu," katanya. Hanya saat lebaran kemarin harganya memang sempat naik menjadi Rp 40 ribu per kilogram.

    Menurut Parinah, harga tersebut mengikuti harga yang diperolehnya dari pemasok. Dia mengaku tidak tahu-menahu harga daging ayam di kandang. "Sehingga kemarin juga kaget melihat banyak peternak yang protes," katanya.

    "Kami sendiri tidak mungkin beli di kandang," katanya melanjutkan. Sebab, pembelian ayam di kandang harus dilakukan dalam jumlah besar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.