Harga Ayam Anjlok, Sultan HB X: Jangan Dijual Kalau Terlalu Murah

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan keterangan soal habis masa jabatannya dan status pembangunan New Yogyakarta International Airport di Kulonprogo, Yogyakarta, Rabu, 14 September 2017. ISTMAN MPD

    Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan keterangan soal habis masa jabatannya dan status pembangunan New Yogyakarta International Airport di Kulonprogo, Yogyakarta, Rabu, 14 September 2017. ISTMAN MPD

    TEMPO.CO, Jakarta- Gubernur DIY Sri Sultan angkat bicara terkait anjloknya harga jual ayam hidup di Yogyakarta yang kemudian berbuntut protes peternak lewat aksi bagi-bagi ayam gratis pada Rabu, 26 Juni 2019 lalu.

    Kalangan peternak sebelumnya merasa rugi karena harga jual ayam hidup dari pedagang hanya Rp 7.000 - 8.000 per kilogram. Padahal harga daging di pasar selalu di atas Rp 25 ribu per kilogram.  “Kalau (harga jual) terlalu murah ya jangan mau,”  ujar Sultan di Komplek Kantor Gubernur DIY di Kepatihan Kamis 27 Juni 2019.

    BACA: Harga Ayam Anjlok, Pengusaha Diminta Optimalkan Cold Storage

    Sultan menuturkan masuk akal jika pedagang protes dengan harga jual ayam hidup yang terlampau rendah itu. Namun ia juga menuturkan harga jual ayam rendah itu bisa juga tak masuk akal jika ada pengaruh faktor lain. Misalnya karena over supply karena pasokan luar daerah.

    “Kalau faktor pasokan ayam yang over supply belum tentu (jadi pengaruh anjloknya harga), terlebih untuk jenis ayam kampung, itu kan kasusnya hanya untuk ayam buras,” ujarnya.

    BACA: Langkah Peternak Yogya Setelah Bagikan Ribuan Ayam Gratis

    Sultan pun menuturkan, sulit bagi pemerintah DIY kemudian membuat kebijakan pembatasan pasokan ayam dari daerah luar dengan alasan mengurangi over supply dan menstabilkan harga jual ayam. “Seperti distribusi sapi, sulit untuk membatasi pasokan dari luar seperti itu, yang penting bagaimana mengawasinya saja,” ujarnya.

    Sultan menuturkan kondisi peternak ayam diakui kerap pada pada posisi yang sulit. Dalam arti seringkali peternak mengalami keterbatasan modal untuk perputaran bisnis dan juga akses yang terbatas.

    Sultan mencontohkan pada waktu peternak membeli anakan ayam dengan jumlah 100 ekor, saat panen jumlahnya selalu berkurang karena yang mati sebanyak 10-15 persen. Sehingga tidak bisa panen penuh.

    “Kondisi ini terus terjadi karena peternak mengandalkan satu distributor saat beli anakan, terus saat jual telur juga distributor sama, juga saat jual ayam hidup satu distributor,” ujarnya.

    Ketua Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta Hari Wibowo menuturkan pihaknya terpaksa akan masih tetap melakukan aktivitas menjual ayam hidup dengan harga rendah meski kondisinya merugi. “Setelah bagi bagi ayam gratis sebanyak 6.500 ekor kemarin, stok ayam di kandang masih banyak, dua sampai tiga minggu diperkirakan belum habis,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.