Perang Dagang AS-Cina, Sri Mulyani: Belum Ada Titik Temu

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal Perang AS dan Jepang menggelar latihan perang bersama di Laut Cina Selatan di tengah ketegangan perang dagang AS dan CIna pada Jumat, 31 September 2018. Express.co.uk

    Kapal Perang AS dan Jepang menggelar latihan perang bersama di Laut Cina Selatan di tengah ketegangan perang dagang AS dan CIna pada Jumat, 31 September 2018. Express.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertemuan negara-negara anggota G20 yang dilaksanakan di Jepang baru-baru ini belum mengubah tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Negara-negara G20 sebelumnya meminta adanya solusi untuk meredam ketegangan dua negara ini.

    Baca: Forum G20, Bank Indonesia Minta Perang Dagang Diwaspadai

    “Sebelum pertemuan tingkat leaders di Osaka pada akhir bulan ini, harus ada semacam jembatan antara Amerika, RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dan negara-negara lain. Namun (setelah G20), posisinya belum berubah,” ujar Sri Mulyani saat ditemui seusai acara halalbihalal di kantor Kementerian Keuangan, Selasa, 11 Juni 2019.

    Menurut Sri Mulyani, dalam pertemuan itu, Cina menginginkan penyelesaian sengketa dagang kedua negara dilakukan secara multilateral. Artinya, penyelesaian konflik ini dilakukan dengan melibatkan beberapa negara. 

    Sementara itu, Amerika Serikat menghendaki penyelesaian konflik dagang dengan Cina dilakukan secara bilateral. Dengan demikian, Amerika Serikat dan Cina melakukan perjanjian kerja sama hanya khusus dua negara, tanpa campur tangan negara lain.

    Dengan sentimen perang dagang yang belum mereda, pertemuan G20 menyepakati negara-negara anggota mewaspadai adanya pelemahan laju perdagangan ekonomi global. Berdasarkan prediksi para ekonomis, ujar Sri Mulyani, sengketa dagang Amerika dan Cina membuat risiko dagang makin tajam tahun ini. 

    Adapun tensi perdagangan akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,5 persen. Angka ini lebih besar dari perhitungan sebelumnya yang hanya sebesar 0,2 persen. Karena itu, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), dan Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global bakal merosot dan volume perdagangan internasional mengalami pelemahan. 

    “Bahkan ini melemah terendah sejak krisis ekonomi 2008. Ekonomi (global) hanya tumbuh 2,6 persen. Dulu ekonomi dunia tumbuh cukup sehat, bisa mencapai 5 atau 6 persen,” ucap Sri Mulyani. 

    Baca: G20 Ingatkan Risiko Perang Dagang AS-Cina terhadap Pertumbuhan

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, pada Senin waktu Washington DC, mengatakan siap memberlakukan tarif hukuman yang lebih tinggi lagi untuk produk impor dari Cina. Hal ini akan ia lakukan jika tidak dapat membuat kemajuan dalam pembicaraan perdagangan dengan Presiden Cina pada pertemuan puncak KTT G20, akhir bulan ini.

    Trump mengatakan, setelah pertemuan KTT G20 ia berancang-ancang untuk mengenakan tarif senilai minimal US$ 300 miliar atas barang-barang impor dari Cina.
    Tapi, dia masih berpikir pertemuan dengan Xi akan terjadi di Osaka. Saat ini Amerika Serikat telah mengenakan tarif 25 persen untuk barang Cina, dengan nilai US$ 250 miliar. 

    Simak perkembangan perang dagang Amerika Serikat-Cina di Tempo.co

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.