Kapal di Bawah 5.000 GT Dilarang Beroperasi di Bakauheni - Merak

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pemudik berjalan memasuki kapal di Pelabuhan Merak, Banten, Jumat, 8 Juni 2018. Memasuki H-7 Idul Fitri, arus mudik di Pelabuhan Merak terpantau masih sepi. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Seorang pemudik berjalan memasuki kapal di Pelabuhan Merak, Banten, Jumat, 8 Juni 2018. Memasuki H-7 Idul Fitri, arus mudik di Pelabuhan Merak terpantau masih sepi. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah akan menerbitkan larangan berlayar sementara untuk kapal di bawah 5.000 gross tonage atau GT khusus penyeberangan dari Pelabuhan Bakauheni menuju Merak saat arus balik Lebaran. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengatakan kebijakan tersebut diterapkan untuk memperlancar laju lalu lintas penyeberangan di Selat Sunda.

    BACA: H-3 Lebaran 2019, Travel Ilegal Marak di Pelabuhan Bakauheni

    “Kapal dioperasikan besar di atas 5.000 GT dengan waktu port time (bongkar muat) maksimal 45 menit,” ujar Budi Setiyadi dalam pesan pendek kepada Tempo, Selasa, 4 Juni 2019. Aturan sementara tersebut juga tertuang dalam notula hasil rapat penanganan arus balik di Pelabuhan Merak - Bakauheni antara Kementerian Perhubungan, Polda Lampung, Polda Banten, dan Dinas Perhubungan Lampung.

    Kapal berdaya angkut kurang dari 5.000 GT untuk sementara dilabuhkan di dermaga-dermaga Pelabuhan Merak dan Bakauheni. Alasan Kementerian Perhubungan menghentikan sementara operasi kapal-kapal tersebut ialah lantaran daya muatnya sedikit. Selain itu, waktu bongkar muat kapal di bawah 5.000 GT lebih lama ketimbang kapal besar. 

    BACA: H-4 Lebaran 2019, Pemudik Menyeberang ke Bakauheni Meningkat

    Kebijakan serupa sebelumnya telah diterapkan pada masa arus mudik. Pada 30 Mei hingga 3 Juni, kapal di bawah 5.000 GT tidak boleh berlayar dari Merak menuju Bakauheni. 

    Sebagai gantinya, Kementerian Perhubungan menyiapkan sekitar 70 kapal di atas 5.000 GT atau Kapal Roro. Budi Setiyadi memastikan kapal yang ada saat ini seluruhnya adalah kapal besar dan cukup mengakomodasi jumlah penumpang. Kapal-kapal ini bakal beroperasi di tujuh dermaga. 

    “Skema bongkar dan muat akan diberlakukan di dermaga 5 dan 6 Bakauhenoi. Di dermaga 4,5,7 Merak selanjutnya berangkat kosongan,” ucapnya. 

    Data Sistem Informasi Angkutan dan Sarana Transportasi Kementerian Perhubungan menunjukkan penyeberangan Merak- Bakauheni merupakan pelabuhan penyeberangan tersibuk saat arus mudik lalu. Secara kumulatif pada H-7 hingga H-1 pagi ini, total penumpang berangkat dari Merak menuju Bakauheni berjumlah 752.441 jiwa. Angka pergerakan penumpang di Merak tercatat paling tinggi dibandingkan dengan 17 pelabuhan penyeberangan lainnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.