Menhub Mengaku Menpar Arief Yahya Curhat Soal Tiket Pesawat Mahal

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (ketiga kanan) didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kedua kiri), Kapolda Banten Irjen Pol Tomsi Tohir (kedua kanan), Kepala Basarnas, Marsekal Madya (TNI) Bagus Puruhito (kanan), Dirut PT ASDP Ira Puspadewi (ketiga kanan) memberi keterangan kepada awak media di saat meninjau Dermaga Eksekutif Pelabuhan Merak, Banten, Sabtu 11 Mei 2019. ANTARA FOTO/Dziki Oktomauliyadi

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (ketiga kanan) didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kedua kiri), Kapolda Banten Irjen Pol Tomsi Tohir (kedua kanan), Kepala Basarnas, Marsekal Madya (TNI) Bagus Puruhito (kanan), Dirut PT ASDP Ira Puspadewi (ketiga kanan) memberi keterangan kepada awak media di saat meninjau Dermaga Eksekutif Pelabuhan Merak, Banten, Sabtu 11 Mei 2019. ANTARA FOTO/Dziki Oktomauliyadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengaku sempat beberapa kali didatangi Menteri Pariwisata Arief Yahya lantaran mahalnya tiket pesawat di dalam negeri.

    Baca juga: Menhub: Penurunan TBA Tiket Pesawat Tak Ganggu Kesehatan Maskapai

    "Kami beberapa kali mendapat kunjungan dari Menteri Pariwisata," ujar Budi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin malam, 13 Mei 2019.

    Dalam beberapa kunjungan itu, kata Budi, Arief menceritakan dampak mahalnya tiket pesawat terhadap kunjungan pariwisata dan tingkat keterisian hotel. "Jelas mereka berharap tarif terjangkau," ujarnya.

    Dalam dua bulan terakhir, Budi sudah meminta maskapai segera menyesuaikan tarif tiket pesawat agar terjangkau masyarakat. Namun, permintaan Budi itu tak kunjung dituruti. Sehingga, pemerintah pun akhirnya memutar otak untuk bisa menekan tarif penerbangan itu.

    "Dengan memperhatikan dan menghitung Harga Pokok Penjualan maskapai, terutama full service, maka sesuai dengan peraturan perundang-undanganm Kementerian Perhubungan mengambil putusan untuk menentukan tarif batas atas baru," ujar Budi.

    Pemerintah memutuskan menurunkan tarif batas atas sebesar 12-16 persen, khusus untuk pesawat bermesin jet, bukan propeller. Penurunan sebesar 12 persen akan diberlakukan pada rute-rute gemuk seperti rute di daerah Jawa. Sementara, penurunan lainnya dilakukan pada rute-rute seperti penerbangan ke Jayapura.

    Ia menyatakan telah memperhitungkan beberapa komponen dalam struktur harga pembentuk tarif penerbangan dalam menurunkan tarif batas atas. Sehingga, ia menjamin kebijakan itu tidak akan mengganggu kesehatan keuangan perusahaan. "Angka tersebut memperhitungkan keamanan maskapai, insyaAllah sehat," ujar Budi.

    Kondisi yang mendukung penurunan tarif itu antara lain adalah harga avtur relatif turun. Belum lagi okupansi penerbangan dan performa ketepatan waktu alias on time performance maskapai juga relatif tinggi. Ia mengatakan manajemen bandara yang baik cukup dominan dalam memengaruhi tarif.

    "Secara detail kenapa kami sampaikan OTP tinggi dan manajemen bandara yang baik mempengaruhi, karena itu bisa membuat penerbangan tepat waktu baik saat lepas landas maupun mendarat, sehingga konsumsi avtur dan penggunaan sumber daya manusia turun. Ini hal penting," ujar dia.

    Atas keputusan itu, Budi mengatakan bakal mensosialisasikan kepada setiap pemangku kepentingan. Ia juga bakal menggeber keluarnya surat keputusan ihwal penurunan tarif batas tiket pesawat itu. "Kami upayakan dua hari selesai tanda tangan dan efektif," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.