Peternak Ayam Serukan 4 Tuntutan ke Jokowi saat Demo di Istana

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para peternak ayam rakyat dan mandiri mengelar demo di depan Istana Negara karena harga ayam terlalu murah dan tidak sesuai dengan harga pokok produksi, Selasa 5 Maret 2019. Tempo/Dias Prasongko

    Para peternak ayam rakyat dan mandiri mengelar demo di depan Istana Negara karena harga ayam terlalu murah dan tidak sesuai dengan harga pokok produksi, Selasa 5 Maret 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, JakartaPeternak ayam dari berbagai wilayah di Indonesia hari ini menggelar demo di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa 5 Maret 2019. Sekretaris Jendral Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi mengatakan demo ini digelar karena harga ayam di pasar lebih murah dibandingkan harga pokok produksi.

    Baca: Harga Terlalu Murah, Peternak Ayam Berunjuk Rasa di Istana Negara

    "Harga ayam terlalu murah dan sarana peternak yang dibeli memberatkan. Jika terus menerus berlangsung para peternak rakyat dan mandiri bisa bangkrut," kata Sugeng saat menjadi orator di depan Istana Negara, Selasa, 5 Maret 2019.

    Para peternak tersebut datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Kalimantan. Adapun, gelaran demo ini menjadi yang ketujuh dilakukan untuk meminta pemerintah menaikkan harga ayam ditingkat peternak rakyat dan mandiri.

    Salah satu peternak saat menyampaikan juga orasi menyampaikan bahwa saat ini banyak sektor-sektor produksi lebih banyak dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar mulai dari hulu hingga hilir. Atau, menguasai mulai dari bibit ayam (day old chicken), pakan ayam hingga obat-obatan.

    Dalam demo tersebut ada empat tuntutan yang diminta pada peternak ayam. Pertama, adalah meminta Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi untuk memberikan rasa keadilan dalam berusaha dan perlindungan usaha. Terutama bagi para peternak unggas rakyat mandiri sehingga tidak mengalami kerugian parah seperti saat ini.

    Merujuk data dari Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia atau Pinsar Indonesia menunjukkan bahwa sejak 2016-2018 harga jual ayam rata-rata lebih rendah dari harga pokok produksi. Misalnya, pada 2016, harga rata-rata mencapai Rp 17.174 namun harga produksi Rp 17.591 per kilogram.

    Adapun pada 2018, harga rata-rata sebesar Rp 19.543 tapi harga produksi mencapai Rp Rp 18.525 per kilogram. Sedangkan, pada Januari-Februari 2019, harga rata-rata Rp 18.111 namun, harga pokok produksi Rp 19.884 per kilogram.

    Kemudian, yang kedua, para demonstran juga meminta Presiden Jokowi untuk mengambil inisiatif mengeluarkan Perpu guna menggantikan Undang Undang Peternakan yang terbukti memarginalkan peternak unggas rakyat di Indonesia. Peternak meminta budidaya, dikembalikan lagi kepada peternak rakyat.

    Baca: Peternak Ayam Sebut Impor Jagung Tak Cukup Penuhi Kebutuhan Pakan

    Ketiga, para peternak juga meminta Jokowi untuk menurunkan harga sarana produksi peternakan, terutama harga pakan dan day old chicken (DOC) dalam waktu yang secepatnya. Keempat, peternak ayam juga meminta Presiden Jokowi untuk berinisiatif menggunakan kewenangannya dalam mengendalikan pasokan DOC/ayam hidup secepatnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.