BI: Investor Asing Serbu Obligasi Negara, Kepercayaan Menguat

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 di Jakarta, Selasa, 27 November 2018. Dalam pidatonya, Perry Warjiyo memaparkan rencana kebijakan moneter bank sentral pada 2019.  ANTARA/Puspa Perwitasari

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 di Jakarta, Selasa, 27 November 2018. Dalam pidatonya, Perry Warjiyo memaparkan rencana kebijakan moneter bank sentral pada 2019. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan arus modal asing masuk ke dalam pasar surat berharga negara (SBN) senilai Rp 34,25 triliun sehingga secara tahunan totalnya mencapai US$ 62,4 triliun (year to date). Kondisi ini diikuti di pasar modal.

    Baca juga: BI: Inflasi November 0,18 Persen

    "Catatan kami aliran investasi portfolio asing ke saham itu Rp12.2 triliun sehingga secara keseluruhan bulan ini ada aliran masuk modal asing ke SBN dan saham Rp 46,4 triliun," ujar Perry, Jumat, 30 November 2018. 

    Peningkatan kepercayaan pasar ini membawa angin positif bagi pergerakan rupiah yang dipantau BI semakin kuat. Aliran modal asing ini menambah pasokan dolar dan memperkuat nilai tukar. 

    Menurut Perry, pelaku pasar percaya terhadap kebijakan yang telah dilakukan pemerintah dan bank sentral. Selain itu, pelaku pasar melihat perbaikan ekonomi dalam negeri dan stabilitas yang terjaga. 

    "Confident terhadap ekonomi Indonesia terhadap kebijakan-kebijakan yang terus kita tempuh semakin kuat, terbukti dengan adanya aliran modal asing masuk dalam portfolio itu," kata dia.

    BI juga melihat faktor lain yang memperkuat rupiah, yakni semakin bekerjanya mekanisme pasar setelah berbagai kebijakan terobosan yang ditempuh. 

    Sejauh ini, mekanisme pasar berkembang sangat baik, pasokan dan permintaan berkembang sangat baik. Sementara itu, transaksi valas terjadi baik di pasar spot, pasar swap dan juga pasar DNDF (Domestic Non Deliverable Forward). 

    Dari catatan BI, korporasi juga aktif terkait dengan pasokan dan permintaannya. Begitupun perbankan dan investor asing yang marak menggunakan DNDF. Perry menuturkan pihaknya melihat perbedaan dan spread antara nilai tukar di pasar spot dan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) semakin mengecil, yakni di bawah Rp50. 

    "Itu menunjukkan mekanisme pasar begitu bekerja," ungkap Perry.

    Di sisi lain, Perry mengakui adanya faktor eksternal mempengaruhi pergerakan nilai tukar ke arah yang positif. Pertama, progres perundingan dagang antara AS dan Cina. Kedua, pernyataan Jerome Powell (Gubernur Federal Reserve / Bank Sentral AS)  yang lebih dovish alias hati-hati. 

    Terkait dengan pernyataan Fed, BI masih memperkirakan kenaikan suku bunga AS sebanyak satu kali pada akhir tahun dan tiga kali tahun depan, meskipun pasar melihat ada kemungkinan naik dua kali saja tahun depan. 

    Sejauh ini, Perry menegaskan kenaikan suku bunga yang telah dilakukan BI telah mengantisipasi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) pada Desember dan Januari. Tidak hanya FFR, kenaikan suku bunga BI pada November ini juga mengantisipasi kenaikan suku bunga global dalam beberapa bulan kedepan.

    Dalam pandangan BI, rupiah masih stabil dan akan menguat. Walaupun, nilainya saat ini masih undervalued.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.