BPS Sebut Defisit Perdagangan Melonjak, Kemenkeu: Masih Sehat

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 20 Oktober 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia pada September 2017 turun dibanding bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 20 Oktober 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia pada September 2017 turun dibanding bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kendati neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit hingga US$ 1,82 miliar pada Oktober 2018, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara menyatakan pertumbuhan impor yang terjadi masih sehat. Pasalnya, apabila ditelaah pertumbuhan impor paling besar berada di barang modal.

    Baca: Defisit Migas Melonjak, Jonan: Impor Minyak Nggak untuk Diminum

    "Kita tahu ini adalah untuk produksi, jadi impor ini masih sehat," ujar Suahasil di Kantor Kementerian Keuangan, Kamis, 15 November 2018.

    Dalam catatannya, ia mengatakan pertumbuhan impor bahan baku pada Oktober 2018 adalah sebesar 23 persen sementara impor barang konsumsi tumbuh lebih rendah sekitar 20 persen. Ia menduga lebih rendahnya impor barang konsumsi bisa dihubungkan dengan kebijakan kenaikan tarif Pajak Penghasilan impor. "Dia bisa kecil, tapi kita akan lihat ke depannya."

    Salah satu produk yang masuk ke kategori bahan baku dan penolong di antaranya, kata Suahasil, adalah minyak dan gas alias migas. Dia berharap dengan diterapkanya kebijakan perluasan mandatori B20 nantinya bisa dipatuhi pelaku pasar sehingga dapat menurunkan angka impor solar.

    "Kalau dengan impor yang masih lumayan tinggi pertumbuhannya, di satu sisi itu ke neraca perdagangan defisit, tapi di APBN penerimaan bea keluar cukup tinggi ketimbang tahun lalu," ujar Suahasil. "Kami berharap sepanjang tahun ada moderasi dari impor dengan berbagai macam policy yang dikeluarkan."

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit US$ 1,82 miliar pada Oktober 2018 seiring dengan arus impor yang kembali meningkat. Nilai defisit ini disebabkan posisi neraca ekspor yang tercatat sebesar US$ 15,80 miliar atau lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor sebesar sebesar US$17,63 miliar.

    Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengungkapkan defisit ini berasal dari sektor migas dengan defisit US$ 10,7 miliar dari Januari-Oktober. "Jadi PR besar kita adalah bagaimana menurunkan defisit ini," kata Kecuk.

    Baca: BI: Upaya Tekan Defisit Transaksi Berjalan Butuh Waktu

    Ke depannya, dia berharap ada kebijakan baru yang menyentuh pada neraca jasa. Berdasarkan tahun kalender, sepanjang Januari hingga Oktober 2018, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 5,5 miliar. Posisi defisit ini disebabkan defisit di neraca migas sebesar US$ 10,7 miliar, di mana defisit hasil minyak mencapai US$ 13,21 miliar.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.