Indef Anggap Wajar Defisit Perdagangan Melonjak, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lokasi pengolahan minyak mentah yang beroperasi di Refinery Unit (RU-5), Balikpapan, Kalimantan Timur. ANTARA/Yudhi Mahatma

    Lokasi pengolahan minyak mentah yang beroperasi di Refinery Unit (RU-5), Balikpapan, Kalimantan Timur. ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Direktur Institute Development of Economics and Financial atau Indef Eko Listiyanto mengatakan terjadinya defisit pada neraca perdagangan di bulan Oktober 2018 adalah hal yang wajar. Sebab, kata dia, tren dari neraca perdagangan memang diperkirakan masih akan terus defisit.

    Baca: BI: Defisit Transaksi Berjalan dan Rupiah Loyo Bisa Berlanjut

    "Wajar ya kalau defisit, karena memang tren tahun ini memang defisit. Kenapa? Karena baik pemerintah maupun swasta saat ini sedang menggenjot kinerja," kata Eko ditemui di Restoran Rantang Ibu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis, 15 Novemver 2018.

    Selain itu, Eko menjelaskan, defisit perdagangan juga disebabkan karena kondisi berbagai pihak yang tengah mengejar target lewat berbagai macam pengadaan dan momentum libur akhir tahun. Padahal kinerja yang terus digenjot produktivitas tersebut juga bergantung akan kebutuhan barang impor.

    Artinya, hampir semua produk yang dihasilkan tersebut tak bisa lepas terhadap barang impor, baik barang modal maupun setengah jadi. Sehingga implikasi kepada defisit, yakni impor yang meningkat tapi di sisi lain ekspor hanya tumbuhnya tipis sekali.

    Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit US$ 1,82 miliar pada Oktober 2018 seiring dengan arus impor yang kembali meningkat. Defisit ini disebabkan posisi neraca ekspor yang tercatat sebesar US$ 15,80 miliar atau lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor sebesar sebesar US$17,63 miliar.

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengungkapkan defisit ini berasal dari sektor migas dengan defisit US$ 10,7 miliar dari Januari-Oktober. "Jadi PR besar kita adalah bagaimana menurunkan defisit ini," katanya, Kamis, 15 November 2018.

    Berdasarkan tahun kalender, sepanjang Januari hingga Oktober 2018, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 5,5 miliar. Posisi defisit ini disebabkan defisit di neraca migas sebesar US$ 10,7 miliar, di mana defisit hasil minyak mencapai US$ 13,21 miliar.

    Adapun, nilai ekspor tumbuh 5,87 persen dari September ke Oktober menjadi US$15,80 miliar didukung oleh ekspor migas dan nonmigas. Ekspor migas tercatat US$ 1,48 miliar atau naik 15,18 persen dipicu nilai gas yang naik tinggi 49,39 persen.

    Baca: Tekan Defisit Transaksi, Pemerintah Bisa Tiru Dua Negara Tetangga

    Sementara itu, ekspor nonmigas sebesar US$ 14,32 miliar. Angka ini naik 4,99 persen ditopang oleh peran ekspor perhiasan dan permata, alas kaki dan bahan bakar mineral.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.