Rupiah Tembus Rp 15 Ribu, Gubernur BI: Lihat Volatilitasnya

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan keterangan saat Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. Keputusan ini konsisten dengan upaya mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik dan mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman. TEMPO/Tony Hartawan

    Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan keterangan saat Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. Keputusan ini konsisten dengan upaya mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik dan mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia atau BI Perry Warjiyo meminta banyak pihak tak khawatir mengenai kondisi nilai tukar rupiah yang telah mencapai level Rp 15 ribu per dolar Amerika Serikat (AS). Menurut dia, depresiasi nilai rupiah yang mencapai angka Rp 15 ribu tersebut harus pula dibandingkan dengan nilai tukar mata uang negara lain.

    Baca juga: Kurs Jisdor, Rupiah Melemah ke Rp 15.088 per Dolar AS Hari Ini

    "Jangan dilihat kalau Rp 15 ribu per dolar AS sudah kiamat. Dibandingkan dulu dengan negara yang juga mengalami depresiasi. Jadi bukan tingkat atau levelnya, Rp 15 ribu atau Rp 14 ribu tapi juga volatilitasnya (naik turunya)," kata Perry di hadapan anggota DPR Fraksi Partai Golkar, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Selatan, Rabu, 3 Oktober 2018.

    Hari ini merujuk pada Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR nilai tukar rupiah berada pada angka Rp 15.088 per dolar Amerika Serikat pada Rabu, 3 Oktober 2018. Adapun, di pasar valuta asing, merujuk data RTI, rupiah diperdagangkan sebesar Rp 15.058 per dolar Amerika Serikat.

    Menurut Perry, kondisi nilai tukar rupiah yang terus terkoreksi tersebut merupakan kondisi yang terjadi tak hanya di Indonesia saja tetapi juga negara lain. Terutama negara-negara emerging market yang juga sama-sama memiliki defisit transaksi berjalan atau neraca pembayaraan impornya lebih tinggi dibandingkan ekspornya.

    Perry menjelaskan pelemahan nilai tukar sejak Desember 2017 atau secara year to date berada pada level 9,82 persen. Adapun negara-negara lain yang juga memiliki defisit transaksi seperti Turki nilai tukarnya telah melemah 37,7 persen, Brasil mencapai 17,6 persen, Afrika Selatan sebesar 13,8 persen dan India mencapai 12,4 persen.

    "Selain itu, dilihat dari tingkat pelemahan, naik turun atau volatilitasnya melemah 7,3 persen. Dari sana terlihat suhu panas kita masih relatif terjaga," kata Perry.

    Karena itu, Perry meminta semua pihak tak perlu khawatir. Sebab, dari sisi ekonomi domestik masih menunjukkan kondisi yang cukup baik. Misalnya, kata Perry, tekanan harga atau inflasi selama dua bulan terakhir Agustus - September 2018 tetap terjaga, bahkan mengalami deflasi.

    "Tekanan harga rendah, Inflasi year to date mencapai 3,2 persen dan masih rendah dari target. Harga pangan dan harga yang diatur pemerintah bagus," kata Perry.

    Selain itu, Perry juga menjelaskan, pelemahan rupiah ternyata tidak mempengaruhi kondisi harga barang dan komoditas. Sebab, kapasitas ekonomi domestik masih cukup besar dan pelaku usaha masih memiliki ekspektasi pasar yang bagus. Para pengusaha juga memilih tidak menaikkan harga tetapi memilih melakukan efisiensi. Adapun kredit perbankan masih tumbuh 11 persen begitu juga dengan pembiayaan non perbankan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?