Jumat, 16 November 2018

Sandiaga: Pengusaha Milenial Keluhkan Biaya Produksi Melambung

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno saat menghadiri Malam Seni Warga Kemayoran, Jakarta Pusat, 1 September 2018. Tempo/Taufiq Siddiq

    Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno saat menghadiri Malam Seni Warga Kemayoran, Jakarta Pusat, 1 September 2018. Tempo/Taufiq Siddiq

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak hanya dari kalangan ibu-ibu, calon wakil presiden Sandiaga Uno juga mengaku mendengar keluh kesah dari pengusaha muda atas dampak pelemahan rupiah belakangan ini. Pengusaha muda itu disebutnya mengeluhkan biaya produksi yang terus melambung tinggi. Keluhan itu disampaikan saat Sandiaga mengikuti diskusi di Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat.

    Baca: Respons Sandiaga Uno, Di Medsos Muncul Gerakan 100 Ribu Dapat Apa

    Sandiaga mengaku mendapat aspirasi dari pengusaha muda dan milenial bernama Aiqi. "Dia adalah salah satu pengusaha clothing Bandung yang mengeluhkan biaya produksi, seperti bahan naik, benang naik, sablon naik. Semua ongkos naik, termasuk pajak, yang menurutnya mencekik," katanya melalui keterangan pers, Kamis, 13 September 2018.

    Atas keluhan pengusaha muda itu, Sandiaga, yang juga mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, menyebutkan bahwa salah satu faktor stabilitas perekonomian saat ini adalah nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat. Ia mengingatkan agar setiap pengusaha selalu berpikir inovatif dan jeli melihat kebutuhan pasar yang terus berganti dengan cepat.

    Sandiaga juga memberi saran agar para pengusaha mengambil langkah-langkah penghematan. "Pilih-pilih kebutuhan atau keinginan yang ditunda agar bisa ditunda. Dahulukan prioritas, juga cari pangsa pasar baru," ucapnya.

    Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini berharap UMKM karya anak bangsa bisa mendapatkan ekosistem ekonomi yang baik sehingga bisa terus tumbuh dan berkembang. Terlebih, kata Sandiaga, UMKM selama ini dapat menggerakkan perekonomian dan menciptakan lapangan kerja untuk memberantas pengangguran dan kemiskinan.

    Sebelumnya, Sandiaga Uno mengaku mendengar keluhan Ibu Lia dari Pekanbaru yang menyebutkan uang belanja Rp 100 ribu saat ini hanya bisa untuk membeli bawang dan cabai. Pernyataan Sandiaga ini kemudian menjadi perbincangan dan viral. "Kita bicara ini lepas dari politik praktis, warga terbebani," ujar Sandiaga di GOR Bulungan, Rabu, 5 September 2018.

    Belakangan muncul gerakan #100ribudapatapa di media sosial seperti Twitter yang berkembang menjadi viral. Gerakan dengan hashtag #100ribudapatapa ini juga diikuti banyak netizen.

    Tak hanya ibu-ibu, ada juga pria bernama Ahmad Ainun Najib menceritakan pengalamannya berbelanja di Pasar Pagesangan, Surabaya, dengan uang Rp 100 ribu pada Sabtu, 8 September 2018.

    Salah satu netizen Newsoul dengan akun @ellysuryani menyatakan uang belanja Rp 100 ribu sudah lebih dari cukup. "Bilang belanja hari-hari itu tergantung kreativitas dan selera. Mau yang mahal atau murah sak karepmu. Kalau beli dengan niat sederhana, Rp 100 ribu bisa dapat banyak untuk makan 3 orang 3 hari. Kalau sedang songong, sekali jajan aja enggak cukup. Saya tinggal di Palembang," katanya, Sabtu lalu. 

    Baca: Bantah Sandiaga, Kementan: Harga Aneka Cabai dan Bawang Turun

    Menanggapi kisah Sandiaga itu pula, Elly menyebutkan dari uang Rp 100 ribu ia bisa membeli 1 kg ikan patin Rp 24 ribu, 1 kg telur Rp 22 ribu, bawang merah dan bawang putih Rp 10 ribu, 1 ikat kangkung Rp 2 ribu, 1/2 kg terung bulat Rp 6.000, 1/4 kg cabai merah Rp 7.000, dan pepaya 12 ribu. "Total Rp 83 ribu, cukup untuk 3 hari. Sisanya bisa untuk beli beras kalau mau. Saya belinya bulanan #100ribudapatapa."

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.