Prabowo - Sandiaga Gelar Rapat Bahas Rupiah Melemah

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla berjabat tangan dengan pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno di rumah dinasnya, Jalan Diponegoro, Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. TEMPO/Vindry Florentin

    Wakil Presiden Jusuf Kalla berjabat tangan dengan pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno di rumah dinasnya, Jalan Diponegoro, Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. TEMPO/Vindry Florentin

    TEMPO.CO, Jakarta - Bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno mengatakan dirinya telah mendiskusikan bersama bakal calon presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Pasangan ini sepakat tidak saling menyalahkan dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo terkait kondisi tersebut.

    Baca juga:  Gerindra: AHY Masuk Juru Kampanye Nasional Prabowo - Sandiaga

    "Kami tadi membahas soal pelemahan rupiah, keadaan ekonomi kita dalam tahap mengkhawatirkan. Harapan Prabowo tidak saling menyalahkan karena kondisi ini sudah diprediksi sejak empat tahun lalu oleh beliau," kata Sandiaga usai menemui Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta, Selasa malam, 4 September 2018.

    Dia mengatakan partai politik mitra koalisi akan menentukan sikap terkait kondisi ekonomi tersebut pada Kamis, 6 September 2018 menentukan posisi koalisi terkait kondisi ekonomi. Sandiaga menilai pelemahan rupiah tersebut salah satunya disebabkan tidak terjadi reformasi struktural yang tepat di bidang ekonomi, misalnya hasil ekspor tidak dikonversi ke rupiah dan terjadi kebocoran penerimaan negara.

    "Jadi ini yang menjadi catatan, tadi beliau sampaikan sangat serius dan kita harus memikirkan dalam satu hingga dua hari akan pergi ke Lombok setelah itu ke Jawa Timur. Setelah kembali diinginkan ada pertemuan di tingkat 'high level' antara mitra koalisi untuk menyikapi keadaan ekonomi sekarang," ujarnya.

    Sandiaga menilai ekonomi Indonesia mengalami tekanan dengan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tembus angka Rp 15.000 sehingga yang perlu ditingkatkan adalah kewaspadaan dan memastikan bahwa lapangan kerja menjadi pusat perhatian dari pemerintah untuk dikomunikasikan dengan dunia usaha.

    Dia tidak menginginkan ada gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena ini pasti biaya produksi meningkat, biaya bahan baku meningkat nanti akan ada rasionalisasi pekerja dan dirinya tidak ingin itu terjadi.

    "Lalu untuk antisipasi 'importir influention' itu pemerintah harus pastikan dan ini sudah sampaikan berulang kali oleh kami di awal bahwa reformasi struktural dari ekonomi kita belum terjadi, ini yang harus disampaikan," katanya.

    Dia menilai tidak semua negara berkembang mengalami pelemahan mata uang dalam negeri karena hanya negara berkembang yang rentan ekonominya yang berpengaruh nilai tukar mata uangnya.

    Karena itu, dia menilai ada faktor internal yang mempengaruhi pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan dirinya pernah berdiskusi singkat dengan Agus Martowardojo beberapa waktu lalu.

    "Waktu itu pembahasan singkat saya dengan Agus Martowardojo adalah karena reformasi struktural yang kita gadang-gadang itu belum terjadi empat tahun terakhir ini. Dan sekali lagi saya tidak mau menyalahkan, ini memang kesalahan kolektif," ujarnya.

    Baca juga: Jokowi Minta Warga NTB Bangun Rumah Tahan Gempa

    Sandiaga menegaskan dirinya dan Prabowo sepakat untuk memastikan tidak ada kebocoran pendapatan dan akan memastikan ekonomi Indonesia efisien dan mampu menciptakan lapangan kerja sehingga industri dalam negeri tumbuh dan berkembang.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.