Kamis, 20 September 2018

Kurs Rupiah Kian Jeblok, BEI: Kita Tidak Sedang dalam Krisis

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menghitung uang saat melayani penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta, 8 Mei 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas menghitung uang saat melayani penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta, 8 Mei 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Perdagangan dan Pengaturan Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono Widodo menilai tren pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini tak semata-mata mencerminkan kondisi perekonomian dalam negeri. Pelemahan kurs rupiah hingga mendekati level Rp 15.000 per dolar AS hari ini, menurut Laksono, juga terjadi pada mata uang negara lain. 

    Baca: Rupiah Anjlok, Ketua OJK Pastikan Kondisi Perbankan Aman

    Terlebih, menurut Laksono, karena pelemahan nilai tukar rupiah tidak linear dengan yang terjadi di pasar saham. "Kita serahkan kepada investor, kita tidak sedang dalam kondisi krisis," kata Laksono, Selasa, 4 September 2018. 

    Laksono menjelaskan, fundamental pasar modal dalam negeri menunjukkan perbaikan seiring dengan laporan keuangan perusahaan publik atau emiten yang mengalami perbaikan. "Kalau kami lihat, laporan keuangan perusahaan publik periode Juni semua menunjukkan perbaikan, itu juga menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia yang bagus," ujarnya.

    Lebih jauh Laksono mencontohkan, posisi indeks harga saham gabungan (IHSG) yang hampir menyentuh level 6.000 poin juga merupakan salah satu indikator positif bagi perekonomian nasional. Terpantau, pergerakan IHSG pada sesi pertama hari ini berada di kisaran 5.927-5.978 poin.

    "Itu bagus, itu buktinya," ujar Laksono. "Yang membuat sentimen naik turun di pasar saham itu pergerakan rupiah terhadap dolar AS, tapi kan pelemahan mata uang juga terjadi dimana-mana." 

    Menurut Laksono, fluktuasi nilai tukar rupiah masih akan mudah berubah pergerakannya karena pengaruh eksternal, diantaranya krisis ekonomi Turki dan Argentina serta perang dagang Amerika Serikat dengan beberapa negara. "Sentimen-sentimen yang seperti itu berdampak ke negara berkembang," katanya.

    Analis Panin Sekuritas William Hartanto sebelumnya memperkirakan rupiah akan melemah hari ini. Ia memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.780 - 14.900 per dolar Amerika Serikat."Kaget juga semakin dibuat peraturan malah semakin melemah," katanya saat dihubungi, Selasa, 4 September 2018.

    Baca: Rupiah Loyo, BI Diprediksi Intervensi Pasar SBN Rp 5 Triliun

    William mengatakan sekarang pemerintah menyasar spekulator dan eksportir yang diduga menahan dolar demi mencari keuntungan. Hal itu, menurut dia, seharusnya bisa menjadi sentimen positif. "Tapi sentimen eksternal tetap lebih kuat, jadi hari ini prediksi rupiah masih akan melemah, kemarin sudah sampai Rp 14.892," ucapnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.