Selasa, 23 Oktober 2018

Rupiah Menguat Usai Trump Berharap The Fed Tak Naikkan Suku Bunga

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Rupiah Dollar. ANTARA/Wahyu Putro A

    Ilustrasi Rupiah Dollar. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis Panin Sekuritas William Hartanto memperkirakan rupiah akan menguat hari ini. William memprediksi rupiah bergerak di kisaran Rp 14.440 - Rp 14.580 per dolar Amerika Serikat.

    BACA: Rupiah Diprediksi Masih Terpengaruh Krisis Turki

    Menurut William hal itu dipengaruhi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berharap bank sentral AS atau The Fed tidak menaikkan suku bunga acuan.

    "Setelah Trump berharap the Fed tidak menaikkan suku bunga lagi, pelaku pasar mulai melihat pasar uang Amerika jadi menurun tingkat return-nya, hasilnya mereka mulai menjual dolar dan serentak dolar melemah pada mata uang negara lain, termasuk rupiah," kata William saat dihubungi, Kamis, 23 Agustus 2018.

    Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di angka Rp 14.568 pada Selasa, 21 Agustus 2018. Angka tersebut menunjukkan penguatan 10 poin dari nilai sebelumnya, yaitu Rp 14.578 pada penutupan Senin, 20 Agustus 2018.

    BACA: Menko Darmin: Meski Sering Ditekan, Rupiah Bisa Kembali Bangkit

    Sedangkan pada 21 Agustus 2018, kurs jual US$ 1 terhadap rupiah, yaitu Rp 14.641 dan kurs beli Rp 14.495.

    Adapun analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta menyatakan pergerakan rupiah terhadap dolar AS akan bervariatif dengan kecenderungan melemah hari ini. Nafan memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.560 - Rp 14.640.

    "Dari perspektif teknikal terlihat pola bullish harami candlestick pattern pada USDIDR H4 chart yang mengindikasikan adanya potensi depresiasi bagi rupiah terhadap dolar AS," kata Nafan.

    Dari perspektif fundamental, kata Nafan faktor-faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah adalah krisis finansial Turki yang berkelanjutan. Kemudian dalam notulen rapat FOMC ditegaskan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan dengan mempertimbangkan bahwa outlook ekonomi AS sudah positif.

    "Sebelumnya para pelaku pasar sudah mengetahui bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan pada September dan Desember tahun ini," kata Nafan menanggapi pergerakan rupiah hari ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.