Mudik, Empat Pekerjaan di Tol Jakarta-Cikampek Dihentikan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lalu lintas di Jalan Tol Jakarta-Cikampet KM 41 menjelang arus mudik 2018. Seluruh pekerjaan infrastruktur di ruas tol Jakarta-Cikampek akan dihentikan sementara mulai H-10 hingga H+10 pada Jumat 1 Juni 2018. TEMPO/Wawan Priyanto.

    Lalu lintas di Jalan Tol Jakarta-Cikampet KM 41 menjelang arus mudik 2018. Seluruh pekerjaan infrastruktur di ruas tol Jakarta-Cikampek akan dihentikan sementara mulai H-10 hingga H+10 pada Jumat 1 Juni 2018. TEMPO/Wawan Priyanto.

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Jasa Marga (persero) Tbk memastikan seluruh kegiatan konstruksi di ruas Tol Jakarta-Cikampek sudah berhenti sementara untuk mendukung pergerakan mudik Lebaran yang dimulai hari ini, Jumat, 8 Juni 2018. Penghentian proyek di akses utama keluar Jakarta tersebut diwajibkan pada H-10 hingga H+10 Lebaran, atau dimulai pada 5 Juni lalu.

    Baca: Mudik Lebaran 2018, Ada Bantuan 3 Bus Tingkat dari Kemenhub

    Sekretaris Perusahaan Jasa Marga, Agus Setiawan, mengatakan pihaknya tak hanya membekukan pengerjaan Tol Layang Jakarta-Cikampek, pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung, serta Light Rail Transit (LRT) Jabodebek, namun juga perawatan periodik di ruas tersebut.

    "Semua proyek sudah stop, kami periksa. Bahkan tak ada lagi pekerjaan berkala seperti pelapisan ulang (jalan), kami liburkan," ujarnya pada Tempo, Kamis, 7 Juni 2018.

    Menurut Agus, sebagian besar alat berat sudah dipindahkan ke luar ruas Jakarta-Cikampek. Saat ini, hanya ada beberapa unit kendaraan proyek yang disiagakan untuk mengantisipasi masalah fisik saat mudik berlangsung.

    Baca: Mudik Lebaran 2018, Pengguna Bus Umum Diprediksi Turun 5 Persen

    Dari penyusuran Tempo di jalan sepanjang 73 kilometer itu pada hari pertama penghentian proyek, masih terlihat sejumlah alat berat seperti eskavator dan crane yang terparkir. Namun tak terlihat ada aktivitas pekerja di skitar lokasi proyek.

    Tampak adanya median concrete barrier atau pembatas beton yang digeser ke pinggir luar jalan. Adapun penempatan pembatas yang berada di tengah ruas Jakarta-Cikampek masih disesuaikan dengan dinding lokasi proyek.

    Aktivitas kontraktor di lokasi, seperti PT Waskita Karya (persero) Tbk, kata Agus, hanya terkait dengan pembenahan badan jalan untuk kesiapan mudik. "Masih ada penambalan (lubang) di sejumlah lokasi yang urgent, agar nanti jalurnya nyaman dilewati. Kalau itu ada izinnya," kata dia.

    Agus menilai penghentian proyek bisa meningkatkan konsentrasi pengguna jalan saat melintas. "Jadi saat bawa mobil bisa fokus tak melihat-lihat (pekerjaan konstruksi), lebih lega. Saat pagar proyek dekat dengan marka jalan, pasti terasa sempit, sekarang lebih bebas karena sudah dirapikan.

    Vice President Operational Management Jasa Marga, Bagus Cahya, mengatakan penghentian tak sontak membuat kecepatan kendaraan bertambah drastis. Pasalnya, volume kendaraan Jakarta-Cikampek justru meningkat saat mudik. "Di gerbang (GT) Cikarang Utama saja kami perkirakan bisa 112 ribu kendaraan (per hari) saat puncak arus, jadi kalau menyebut harus lancar ya agak mustahil," katanya.

    Merujuk data Jasa Marga, volume kendaraan yang melintas GT Cikarut diprediksi mencapai 99 ribu unit pada 8 Juni nanti. Jumlah itu meningkat menjadi 112 ribu sehari setelahnya. Padahal,volume harian gerbang tersebut hanya berkisar 70 ribu unit.

    Adapun Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, Bambang Prihartono, mengatakan pihaknya akan memeriksa kembali ketersediaan lajur ruas Jakarta-Cikampek. Ruas yang mayoritasnya terdiri dari empat lajur kendaraan itu, kata dia, harus difungsikan seoptimal mungkin untuk lalu lintas. "Harusnya lajurnya sudah kembali normal, nanti kami cek ya," ucap Bambang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.