Neraca Perdagangan Januari 2018 Defisit USD 0,68 M, Ini Pemicunya

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktifitas bongkar muat Kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 26 Januari 2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Aktifitas bongkar muat Kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 26 Januari 2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan n Indonesia pada Januari 2018 mengalami defisit sebesar US$ 0,68 miliar. Hal itu dipicu oleh defisit sektor migas sebesar US$ 0,86 miliar.

    "Neraca perdagangan sektor nonmigas surplus US$ 0,18 miliar," ujar Kepala Beraca perdaganganPS Suhariyanto dalam paparan perkembangan ekspor dan impor Indonesia Januari 2018 di Jakarta, Kamis, 15 Februari 2018.

    Baca juga: Neraca Perdagangan Desember 2017 Defisit USD 270 Juta

    Suhariyanto mengatakan nilai ekspor Indonesia pada bulan Januari 2018 tercatat sebesar US$ 14,46 miliar dengan nilai impor mencapai US$ 15,13 miliar.

    Dari sisi volume perdagangan, kata Suhariyanto, neraca volume perdagangan Indonesia mengalami surplus 34,66 juta ton pada Januari 2018. Dia menyebutkan hal tersebut didorong oleh surplusnya neraca sektor nonmigas sebesar 35,06 juta ton. "Namun, neraca volume perdagangan sektor migas defisit 0,40 juta ton," katanya.

    Suhariyanto mengatakan penurunan ekspor salah satunya terjadi di sektor nonmigas. Nilai ekspor sektor ini turun 1,45 persen dibanding Desember 2017, sementara naik dibanding bulan Januari 2017. "Ekspor nonmigas Januari 2018 sebesar US$ 13,17 miliar," katanya.

    Ekspor migas juga mengalami penurunan sebesar 14,85 persen dari US$ 1,59 miliar menjadi US$ 1,28 miliar. Hal ini, kata Suhariyanto, disebabkan oleh menurunnya ekspor hasil minyak 26,31 persen menjadi US$ 89,3 juta serta ekspor minyak mentah 37,52 persen menjadi US$ 317,3 juta. "Ekspor gas juga turun 0,19 persen menjadi US$ 879,1 juta," tuturnya.

    Menurut Suhariyanto, penurunan terbesar ekspor nonmigas Januari 2018 terhadap Desember 2017 terjadi pada beberapa golongan barang. Seperti, kata dia, bijih, kerak, serta abu logam sebesar US$ 370,9 juta atau 49,13 persen. "Sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada perhiasan atau permata sebesar US$ 253,5 juta atau 78,40 persen," ucapnya.

    Di sisi impor, Suhariyanto mengatakan nilai impor Indonesia itu naik sebesar US$ 39,0 juta dibanding Desember 2017. Hal itu, kata dia, disebabkan oleh naiknya impor nonmigas sebesar US$ 457 juta atau sekitar 3,65 persen. "Walaupun impor migas turun US$ 418 juta atau sekitar 16,31 persen," katanya.

    Suhariyanto berujar dibandingkan bulan yang sama tahun lalu, nilai impor Januari 2018 meningkat US$ 3,16 miliar. Peningkatan ini terjadi pada impor migas dan nonmigas masing-masing US$ 317 juta dan US$ 2,84 miliar. "Peningkatan impor migas disebabkan naiknya impor minyak mentah US$ 280 juta, hasil minyak US$ 5 juta, serta gas US$ 31,7 juta," tuturnya.

    Berita tentang neraca perdagangan bisa anda klik di tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.