Holding Perbankan, Bos OJK: Agar Lebih Efisien

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso (kanan) berjabat tangan dengan pejabat lama Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad, saat serah terima jabatan Dewan Komisioner OJK di Gedung Soemitro OJK, Jakarta, 20 Juli 2017. ANTARA FOTO

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso (kanan) berjabat tangan dengan pejabat lama Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad, saat serah terima jabatan Dewan Komisioner OJK di Gedung Soemitro OJK, Jakarta, 20 Juli 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyatakan usaha holding perbankan yang kini tengah digodok prosesnya oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diharapkan dapat mendorong sinergi kinerja di antara bank-bank Himpunan Bank Negara (Himbara).

    "Dan tentunya sinergi perbankan dengan semua anak perusahaan holding lebih efisien," kata Wimboh di lapangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis, 23 November 2017.

    Wimboh mengatakan, dengan adanya sinergi tersebut, diharapkan bank-bank negara yang tergabung dalam holding perbankan dapat menjadi lebih kompetitif. Dengan begitu, kata dia, bank-bank tersebut dapat menawarkan harga dan pelayanan yang lebih baik kepada para nasabahnya dengan sistem yang terintegrasi. "Itulah spirit holding.".

    Tentang regulasinya, Wimboh menambahkan, terdapat Peraturan Bank Indonesia Tahun 2010 yang mengatur keberadaan virtual holding untuk industri perbankan. Dia menyebut, dengan keberadaan virtual holding tersebut, proses holding dapat berlangsung di lapangan tanpa harus melalui lamanya proses legalitas holding.

    Baca: Bos OJK Main Gaple, Tanggapannya: Kalah Menang Tak Masalah 

    Wimboh berujar, dalam proses operasionalnya di lapangan, perusahaan-perusahaan di holding perbankan akan diarahkan para pemegang saham dan para pemangku kepentingan lain agar beberapa perusahaan yang tergabung dalam holding tersebut dapat tetap membangun sinergi yang kompetitif dan terintegrasi.

    Sebelumnya, Deputi Bidang Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan proses holding perbankan kini tengah berjalan. Dia optimistis holding perbankan dapat terealisasi pada kuartal pertama 2018.

    "Untuk itu, kami sedang berkomunikasi intensif dengan OJK dan Kementerian Keuangan. Kami juga sudah (mengurus) administrasi ke BI juga, dan responsnya bagus," kata Gatot di kantor Kementerian BUMN, Senin, 20 November 2017. "Tinggal nanti kita cari tahu mitigasi risiko yang kemungkinan terjadi apabila ada holding perbankan."

    Gatot mengungkapkan, PT Danareksa yang nantinya ditunjuk sebagai perusahaan induk dari holding perbankan akan membawahkan bank-bank Himbara dan beberapa perusahaan jasa keuangan lain sebagai anak perusahaannya.

    Dia menyebut bank dan perusahaan jasa keuangan tersebut terdiri atas PT Bank Mandiri Tbk (Bank Mandiri), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Nasional Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), PT Pegadaian, PT Permodalan Nasional Madani (PNM), PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia, dan PT Jalin Pembayaran Nusantara (JPN).

    ERLANGGA DEWANTO | MWS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.