YLKI: Pilihan Transaksi Tunai Juga Ada di Tol Singapura dan US

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengguna Gerbang Tol Otomatis Capai 40 Persen

    Pengguna Gerbang Tol Otomatis Capai 40 Persen

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, mengatakan penerapan sistem pembayaran non tunai di jalan tol menggunakan uang elektronik bukan tanpa masalah.

    "Seringkali mesin pembaca kartu uang elektronik lambat dalam merespon. Pada akhirnya justru lebih cepat tenaga manusia yang melayani pembayaran secara tunai," kata Tulus di Jakarta, Selasa, 24 Oktober 2017.

    Selain respon mesin yang lambat, tidak jarang pula terjadi mesin yang rusak sama sekali sehingga pengguna jalan tol terpaksa harus mundur dan pindah ke gardu tol lainnya.

    Permasalahan juga terjadi pada sisi pengguna jalan tol. Misalnya, masih ada pengguna jalan tol yang gamang dalam menempelkan kartu pada mesin pembaca, bahkan sampai menjatuhkan kartu.

    Baca: Pembayaran Tunai di Tol Tinggal 12 Persen

    "Tidak jarang pula konsumen kesulitan mengisi ulang di peritel modern seperti minimarket karena berbagai alasan. Misalnya, saldo untuk mengisi ulang di minimarket sedang habis," tuturnya.

    Karena itu, Tulus berpendapat pengelola jalan tol tetap harus memberikan pilihan bagi pengguna jalan tol untuk melakukan pembayaran secara tunai. Pilihan transaksi secara tunai juga terjadi di berbagai negara yang menerapkan otomatisasi di jalan tol, misalnya Amerika Serikat, Singapura, dan China.

    Menurut Tulus, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur hak-hak konsumen, termasuk hak untuk memilih. "Salah satunya adalah pilihan melakukan pembayaran non tunai atau secara tunai," ujarnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mohamed Salah dan Para Pemain Bola yang Tetap Berpuasa Ramadan

    Saat menjalankan profesi yang menguras tenaga, Mohamed Salah dan sejumlah pemain bola yang berlaga di liga-liga eropa tetap menjalankan puasa Ramadan.