Rabu, 14 November 2018

Nadia Tenggara, Si Cantik Lulusan Amerika di Balik Go-Mart

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Project Manager Go-Mart Nadia Tenggara dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim di Jakarta, Kamis (22/10/2015) (ANTARA News/Nanien Yuniar)

    Project Manager Go-Mart Nadia Tenggara dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim di Jakarta, Kamis (22/10/2015) (ANTARA News/Nanien Yuniar)

    TEMPO.CO, Jakarta - Berawal dari pengalaman pribadi sebagai salah satu warga Jakarta yang tidak menyukai kemacetan dan kesulitan mendapatkan barang yang dibutuhkan dalam waktu yang cepat, Nadia Tenggara bersama Go-Jek kini mengembangkan sebuah layanan baru, yaitu Go-Mart, layanan di mana konsumen tidak perlu pergi ke lokasi toko yang dituju karena pengemudi Go-Jek akan membelikan dan mengantarkan produk yang dipilih.

    Nadia Tenggara memegang posisi Head of Go-Mart Indonesia sejak Maret 2015. Lulusan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan di University of Virginia, Amerika Serikat, ini mengungkapkan, “The journey of Go-Mart is my responsibility. Mulai dari menentukan target market, bekerja sama dengan berbagai retail, menciptakan user experience yang paling baik, lalu strategi pemasaran yang tepat untuk mencakup lebih banyak lagi market di luar user-based Go-Jek.”

    Menurut Nadia, leverage dari situasi kemacetan Jakarta, Go-Jek mengembangkan kesempatan itu untuk, selain memudahkan konsumen, meningkatkan produktivitas pengemudi Go-Jek yang kini sudah mencapai 100 ribu orang dan tersebar di seluruh area Jabodetabek.

    Sambil menjalankan bisnisnya sendiri, Callamaya, sebuah florist business, Nadia bergabung dengan Go-Jek ketika tim manajemen masih sangat kecil. Saat itu hanya ada core service, yaitu transport dan shopping.

    “Kami semua di Go-Jek berbagi kultur dan behavior yang selalu mau berinovasi dan terus berkembang. Saya memiliki chemistry yang cocok dengan tim Go-Jek. Hingga akhirnya muncul Go-Mart. Yang membedakan dengan fitur shopping adalah konsumen tidak perlu input produk dan lokasi toko secara manual, tapi hanya perlu pick and choose,” ujar wanita yang punya hobi traveling ini.

    Go-Mart hadir sebagai bentuk revolusi berbelanja di era yang serba digital ini. “Kami mau melakukan suatu revolusi dari customer behavior yang sudah kebiasaan pergi ke toko untuk berbelanja. Dengan adanya Go-Mart, kami ingin shift behavior konsumen dari offline experience ke arah online delivery. Sekarang mobile phone adalah akses untuk akses Internet. Bahkan setiap orang diperkirakan melihat ponselnya setiap 10 menit sekali,” ujar Nadia.

    Menurut Nadia, hambatan yang kini dihadapi adalah bagaimana cara mengedukasi konsumen untuk mengubah behavior dalam berbelanja. “Jika dibandingkan dengan fitur transport, itu konsep yang sudah biasa karena ojek sudah ada dari dulu. Namun untuk online delivery, mempercayakan berbelanja kebutuhan sehari-hari kepada orang lain itu suatu konsep yang harus kita edukasi lebih lanjut.”

    Saat ini target yang ingin dicapai Nadia adalah mendapatkan trust dari konsumen untuk terus menggunakan layanan Go-Mart karena, menurut dia, berbelanja dengan Go-Mart merupakan solusi berbasis teknologi masa kini yang dapat membuat berbelanja menjadi jauh lebih efisien.

    SWA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?