Menteri Susi dan Kekuatan Besar di Sektor Perikanan dan Kelautan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti (kedua kanan) mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 5 April 2017. Rapat ini juga membahas penindakan pelanggaran penyelundupan benih Lobster. ANTARA/M Agung Rajasa

    Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti (kedua kanan) mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 5 April 2017. Rapat ini juga membahas penindakan pelanggaran penyelundupan benih Lobster. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan ada kekuatan besar yang berusaha kembali, setelah terkena dampak kebijakannya. Ia mengatakan kebijakannya bertujuan membuat Indonesia berdaulat penuh atas sumber daya alam, yaitu di sektor perikanan.

    "Saya menyadari ada kekuatan besar yang ingin kembali," kata Susi Pudjiastuti saat ditemui di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Sabtu, 15 Juli 2017.

    Susi menitipkan masa depan sektor perikanan dan kelautan kepada semua masyarakat. Ia merasa apa yang sudah ia kerjakan selama menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan harus terus dilanjutkan. Terlebih potensi tangkapan ikan bertambah dari 6,5 juta ton menjadi 12,5 juta ton. "Akan bisa bertambah jika terus dijaga."

    Menurut Susi, saat ini muncul wacana apakah penenggelaman kapal masih diperlukan. Dia mengaku wacana tersebut membuatnya bingung. Alasannya penenggelaman kapal bukanlah keinginannya atau keinginan Presiden Joko Widodo, melainkan amanat undang-undang.

    Susi mempertanyakan adanya anggapan investor tak menyukai kebijakan penenggelaman kapal. Ia melihat tak ada kaitannya antara investasi dan penenggelaman kapal. "Mau investasi apa mau nyolong?"

    Susi mengungkapkan tidak ada masalah jika penenggelaman kapal ikan asing tak dilakukan lagi. Namun dia mempertanyakan cara memagari laut dari ancaman-ancaman pelaku illegal fishing.

    Hal ini ditambah dengan persoalan cantrang. Cantrang di kapal 70-100 GT ditarik dengan gardan dan memiliki tali sepanjang enam kilometer. "Sekali sapu itu luas sekali dampaknya, karena sambil jalan," ujarnya.

    Kapal asing, kata Susi, sekali keruk bisa mendapatkan ikan sebesar 30-70 ton dan itu dilakukan setiap hari. Bagi Susi hal tersebut bisa mengganggu keberlanjutan sektor perikanan di Indonesia. "Kalau dibiarkan tentu habis," tuturnya.

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.