Bank BTN Obral Bunga KPR 6,21 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tampak bagian dalam rumah murah di Villa Kencana Cikarang, Jawa Barat, 4 Mei 2017. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. kembali menyediakan rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan uang muka (down payment/DP) sekitar Rp1,12 juta dan cicilan sekitar Rp800.000 per bulan. Tempo/Tony Hartawan

    Tampak bagian dalam rumah murah di Villa Kencana Cikarang, Jawa Barat, 4 Mei 2017. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. kembali menyediakan rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan uang muka (down payment/DP) sekitar Rp1,12 juta dan cicilan sekitar Rp800.000 per bulan. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menawarkan promo tingkat bunga 6,21 persen selama periode Ramadan hingga periode 31 Juli mendatang, guna mengoptimalkan penyaluran kredit pemilikan rumah pada kuartal II.

    Direktur Consumer Banking  Bank BTN, Handayani menyatakan realisasi penyaluran KPR pada kuartal II masih bertumbuh, kendati belum memenuhi ekspektasi perseroan.

    "Kredit kita masih tumbuh, meski memang tidak sesuai dengan target yang kami harapkan untuk sampai dengan Mei. Tetapi kami coba kejar terus mudah-mudahan akan tumbuh di Juni karena ini banyak kebutuhan semoga bisa," katanya di Jakarta, Senin, 12 Juni 2017.

    Lebih lanjut, dia mengatakan tingkat bunga tersebut berlaku di sejumlah proyek perumahan di berbagai daerah. Untuk promo ini, BTN bekerja sama dengan lebih dari 31 pengembang.

    Di luar promo bunga 6,21 persen yang berlaku sampai akhir Juli, sejak kuartal akhir 2016, BTN juga memberikan tawaran bunga KPR sebesar 8 persen berlaku tetap selama tiga tahun dan bunga 9 persen selama lima tahun untuk merangsang pasar KPR.

    Kendati enggan menyebutkan secara rinci, dia menuturkan pertumbuhan kredit pada kuartal II lebih melambat lantaran permintaan belum tumbuh dengan baik. Selain itu, konsumen masih cenderung menahan untuk berinvestasi atau mengajukan kredit sebagai imbas dari kondisi politik beberapa bulan belakangan.

    Handayani berharap Bank Sentral dan Otoritas Jasa Keuangan sama-sama bergerak dengan perbankan untuk memberikan stimulus yang menumbuhkan permintaan pasar.

    "Khusus untuk KPR yang di bawah Rp500 juta, terutama yang subsidi, demand-nya tinggi tetapi suplai belum mencukupi karena kuartal I kemarin banyak hujan dan banjir. Selain itu, ada faktor kebutuhan listrik sebab di ketentuan sekarang ini, listrik dan infrastruktur lainnya harus sudah ready baru boleh akad. Jadi semuanya sedikit melambat karena persiapan untuk suplainya kurang," jelasnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.