Tax Amnesty Dorong Cadangan Devisa Maret Naik Jadi USD 121,8 M

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo di dampingi Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani  saat meresmikan mata uang rupiah yang baru di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, 19 Desember 2016. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo di dampingi Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani saat meresmikan mata uang rupiah yang baru di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, 19 Desember 2016. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2017 tercatat sebesar US$ 121,8 miliar atau meningkat dibandingkan posisi akhir Februari 2017 sebesar US$ 119,9 miliar.

    Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan peningkatan itu terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa. Di antaranya berasal dari penerimaan pajak, devisa ekspor migas bagian pemerintah, penerbitan global bonds pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas.

    Baca: Kredit Minus, BI: Pertumbuhan Ekonomi Belum Kuat

    “Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Jumat, 7 April 2017.

    Tirta mengatakan posisi cadangan devisa itu cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, yang berada di atas standar kecukupan internasional yaitu sekitar 3 bulan impor. “BI menilai cadangan devisa itu mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.”

    Baca: BI: Aliran Modal Masuk per April Sentuh Rp 79,1 Triliun

    Kepala Ekonom SKHA Institute for Global Competitiveness, Eric Sugandi berujar kenaikan cadangan devisa Maret lalu tak lepas dari kontribusi program pengampunan pajak atau tax amnesty, khususnya dana repatriasi. Dia pun optimistis ke depan ada peluang cadangan devisa akan terus meningkat.

    “Walaupun peningkatannya tidak secepat sebelumnya karena tidak ada lagi inflows dari tax amnesty,” katanya. Menurut Eric, beberapa faktor yang dapat mendorong peningkatan cadangan devisa dalam beberapa bulan ke depan adalah aliran modal masuk dari SBN valas dan SBBI valas, surplusnya neraca perdagangan Indonesia karena perbaikan harga komoditas, serta aliran modal masuk dari foreign direct investment (FDI).

    “Jika rupiah tidak tertekan parah karena factor eksternal dan BI tidak perlu banyak menggunakan cadangan devisa untuk memperkecil volatilitas rupiah, maka ini juga akan membantu meningkatkan,” ucapnya. Eric memperkirakan hingga akhir tahun nanti, cadangan devisa Indonesia bisa berada pada kisaran US$ 125-130 miliar.

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.