Harga Gula Global Tertekan Proyeksi Surplus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nasi bisa menjadi lebih sehat dan tak membuat kadar gula cepat naik, tergantung jenis beras dan cara mengolahnya. Kuncinya adalah mengurangi indeks glikemik yang dikandung nasi.Indeks glikemik adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap gula darah. Makanan yang berindeks glikemik rendah tak mudah dicerna tubuh. Karena itu, penyerapannya juga lambat sehingga kadar gula dalam darah tak langsung melonjak cepat.

    Nasi bisa menjadi lebih sehat dan tak membuat kadar gula cepat naik, tergantung jenis beras dan cara mengolahnya. Kuncinya adalah mengurangi indeks glikemik yang dikandung nasi.Indeks glikemik adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap gula darah. Makanan yang berindeks glikemik rendah tak mudah dicerna tubuh. Karena itu, penyerapannya juga lambat sehingga kadar gula dalam darah tak langsung melonjak cepat.

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga gula mentah diprediksi mengalami pelemahan sampai pengujung semester I/2017 seiring proyeksi bertumbuhnya produksi.

    Pada perdagangan Kamis, 6 April 2017 pukul 16:51 WIB, harga gula di bursa ICE Futures Europe Commodities untuk kontrak Mei 2017 meningkat 0,09 poin atau 0,56 persen menuju US$16,19 sen per pon. Harga berhasil rebound setelah menurun dalam 8 sesi berturut-turut.

    Sepanjang tahun berjalan, harga merosot 15,9 persen. Tahun lalu, harga gula berhasil melonjak 30,48 persen year on year/ yoy setelah mengalami tren menurun sejak 2010.

    Wahyu Tribowo Laksono, analis Central Capital Futures, menyampaikan tren harga gula memang cenderung mengalami pelemahan sejak September 2016. Isu utama yang menjadi perhatian ialah tingginya volume suplai dan belum tumbuhnya permintaan global.

    Brasil sebagai produsen gula terbesar di dunia diperkirakan mengalami pertumbuhan produksi akibat membaiknya cuaca. Pada musim 2017-2018, tingkat suplai baru di area selatan Brasil diperkirakan mencapai rekor baru sebesar 36 juta ton.

    Pasar gula menggunakan patokan musim mulai Oktober sampai dengan September di tahun berikutnya. Artinya, musim 2017-2018 berlangsung mulai Oktober 2017 hingga September 2018.

    Sementara di India, sebagai salah satu produsen dan konsumen gula terbesar global, diperkirakan mengalami peningkatan hasil panen. Namun, tingkat permintaan negara itu malah menurun.

    Mengutip data Indian Sugar Mills Association (ISMA), tingkat produksi pada musim 2016-2017 yang dimulai Oktober lalu mungkin merosot ke 20,3 juta ton, atau level terendah dalam tujuh tahun terakhir. Pada musim sebelumnya, India menghasilkan gula sejumlah 25,1 juta ton.

    Rendahnya pasokan baru disebabkan kekeringan yang melanda negara bagian Maharashtra, Karnataka, Andhra Pradesh, dan Telangana. Penjualan gula di musim 2016-2017 juga diprediksi turun menjadi 24,2 juta ton dari musim sebelumnya 24,85 juta ton.

    Adapun pada musim 2017-2018, produksi gula India bisa meningkat ke 25,5 juta ton. Namun, peningkatan produksi tidak sejalan dengan pertumbuhan konsumsi yang turun menjadi 23,8-24 juta ton dari 24,8 juta ton pada musim sebelumnya.

    "Faktor Brasil dan India membuat pasar cenderung melakukan aksi jual terhadap gula karena fundamental yang bearish," ujar Wahyu saat dihubungi Bisnis.com, Kamis, 6 April 2017.

    Menurut ahli pasar gula Sucden, sambungnya, bahan pemanis ini akan mengalami suprlus untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir pada 2017. Pasalnya, India mengalami pemulihan dari kekeringan, dan produksi di Uni Eropa juga meningkat.

    Volume produksi global pada musim 2017-2018 diperkirakan sebesar 132,9 juta ton, naik 9,7 juta ton dari musim sebelumnya. Oleh karena itu, harga akan cenderung berfluktuasi.

    Wahyu memperkirakan, harga gula pada kuartal II/2017 berpeluang kembali melemah terbatas menuju US$14 sen per pon. Namun, secara teknikal harga juga oversold sehingga berpeluang mengalami rebound.

    "Range harga kuartal II berada di US$14 sen-US$19 sen per pon. Masih bisa melemah tapi rentan rebounds. Level US$16 sen-US$17 sen akan jadi area yang sering dilalui," tuturnya.

    Dia menambahkan, menurunnya harga gula global dapat menguntungkan Indonesia sebagai negara importir. Asalkan, tata kelola impor dan distribusi pasokan dilakukan secara benar.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.