Apindo Jawa Tengah Minta Tarif Listrik Turun 25 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petugas memasang daftar biaya pemasangan baru dan penambahan daya listrik di kantor PLN area pelayanan Pasar Minggu, Jakarta, Jumat (11/9). Tempo/Panca Syurkani

    Seorang petugas memasang daftar biaya pemasangan baru dan penambahan daya listrik di kantor PLN area pelayanan Pasar Minggu, Jakarta, Jumat (11/9). Tempo/Panca Syurkani

    TEMPO.COSemarang - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah berharap adanya kemudahan dari pemerintah terhadap dunia usaha di tahun 2017. Kemudahan itu terkait dengan perpajakan, juga tarif listrik. Ketua Apindo Jawa Tengah Frans Kongi menyatakan, kemudahan itu di antaranya para pengusaha meminta tarif listrik bisa turun 20-25 persen.

    "Kalau mengenai tarif dasar listrik, sejauh ini sudah mulai baik tapi belum signifikan. Kami mengharapkan pemerintah bisa menurunkan lagi paling tidak 20-25 persen," katanya seperti dilansir Antara, Selasa, 3 Januari 2017.

    Menurut Frans, pengusaha mengharapkan penurunan tarif dasar listrik ini bisa menyerupai harga gas industri yang juga sudah mulai turun. Sebab, biaya untuk energi industri merupakan pengeluaran tertinggi kedua setelah bahan baku.

    Sedangkan mengenai perpajakan, diharapkan ke depan pemerintah mengeluarkan peraturan yang sifatnya lebih terbuka dan sederhana. “Sehingga betul-betul menimbulkan kepercayaan dari pengusaha ke petugas pajak dan sebaliknya. Jangan ada rasa saling curiga antara pengusaha dan petugas pajak," ujarnya.

    Frans meminta tarif pajak dapat diturunkan antara 20-30 persen dari yang berlaku saat ini. "Dengan adanya kemudahan-kemudahan ini, daya saing tetap terjaga," katanya.

    Frans mengatakan, pada dasarnya, menghadapi tahun 2017 ini, para pengusaha tetap optimistis. Dia berjanji dunia usaha akan selalu berusaha bekerja lebih efisien agar daya saing tetap terjaga.

    PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) sebelumnya mengumumkan sebanyak 12 golongan tarif tenaga listrik yang mengikuti mekanisme tariff adjustment (TA) turun pada Januari 2017. Penurunan tarif dilakukan karena menurunnya harga Indonesian Crude Price (ICP) dan biaya pokok produksi (BPP) walaupun nilai tukar rupiah mengalami pelemahan.

    “Penyesuaian tarif bulan ini termasuk stabil. Penurunan rata-rata sebesar Rp 6,” kata Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN I Made Suprateka, dalam keterangan tertulisnya.

    Menurut Suprateka, 12 golongan tarif yang diberlakukan mekanisme TA adalah tarif yang tidak disubsidi pemerintah. Mulai R1 rumah tangga kecil di tegangan rendah, daya 1.300 VA, B2 bisnis menengah di tegangan rendah, daya 6.600 VA-200 kVA, B3 bisnis besar di tegangan rendah, daya di atas 200 kVA, I3 industri menengah di tegangan menengah, daya di atas 200 kVA, hingga I4 industri besar di tegangan tinggi, daya 30 MVA ke atas.

    Selain 12 golongan tarif tersebut, mulai 1 Januari, terdapat penambahan satu golongan tarif baru, yaitu rumah tangga mampu dengan daya 900 VA. Dengan adanya kebijakan pemerintah dalam memberikan subsidi tepat sasaran, golongan tarif tersebut akan naik secara bertahap setiap dua bulan dan akan disesuaikan bersamaan dengan 12 golongan tarif lainnya.

    ANTARA | ANGELINA ANJAR SAWITRI | ABDUL MALIK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.