Pasokan Tebu Minim, PTPN XI Gabungkan 6 Pabrik Gula

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang operator mengoperasikan roda gila untuk menggerakkan mesin uap penggiling di Pabrik Gula Toelangan, Desa Tulangan, Sidoarjo (20/8). Pabrik gula yang berdiri sejak tahun 1850 ini mampu menggiling hingga 1400 ton/hari dengan jumlah produksi 1100 kuintal gula setiap harinya. TEMPO/Fully Syafi

    Seorang operator mengoperasikan roda gila untuk menggerakkan mesin uap penggiling di Pabrik Gula Toelangan, Desa Tulangan, Sidoarjo (20/8). Pabrik gula yang berdiri sejak tahun 1850 ini mampu menggiling hingga 1400 ton/hari dengan jumlah produksi 1100 kuintal gula setiap harinya. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Surabaya – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI mempersiapkan program regrouping (penggabungan) terhadap enam Pabrik Gula (PG). Keenam pabrik gula berkapasitas kecil yang akan berubah fungsi itu ialah PG Kanigoro, Madiun; PG Olean, Situbondo; PG Wringin Anom, Situbondo; PG Pandjie, Situbondo; PG Rejosari, Magetan; dan PG Purwodadi, Magetan. Pabrik gula tersebut bakal dialihfungsikan menjadi house of maintenance atau tempat workshop dan wisata heritage.

    Kementerian Badan Usaha Milik Negara meminta rencana alih fungsi sebagai langkah efisiensi pabrik. Meski begitu, Direktur Utama PTPN XI Dolly Parlagutan Pulungan mengatakan, perseroan akan memperbesar kapasitas PG lain yang memiliki potensi besar. "Jadi pabrik tidak ditutup, tapi hanya berubah fungsi,” katanya melalui rilis tertulis yang diterima Tempo, Kamis, 29 Desember 2016.

    Dolly mencontohkan PG Olean, Situbondo, yang akan dijadikan wisata heritage. Sedangkan di PG Kanigoro, Madiun bakal dijadikan house of maintenance. “Karyawan dan masyarakat sekitar akan tetap diberdayakan," ujarnya.

    Menurut PTPN XI, enam pabrik gula tersebut tak bisa dipaksakan untuk terus memproduksi gula, karena dinilai tak memungkinkan dari segi skala ekonomi. Tak hanya kapasitasnya yang kecil, namun juga kurangnya suplai tebu ke pabrik tersebut. “Kalau memang dipaksakan, skala ekonominya tidak mungkin karena semua pabrik itu tebunya tidak cukup. Kalau tebu mencukupi, kami siap terus memproduksi gula,” ucapnya.

    Sementara itu, General Manager PG Kanigoro, Prijastono menyatakan pihaknya terus mengalami kerugian dalam 3 tahun terakhir. Tahun 2016 ini pun, PG Kanigoro tak mampu memproduksi lantaran tidak ada pasokan tebu dari petani. "Kapasitas PG Kanigoro ini 2.000 TCD atau butuh 300.000 ton tebu per tahun, tetapi selama ini suplainya hanya mampu 100.000 ton tebu,” kata dia.

    Dia memproyeksikan pasokan tebu yang akan digiling hanya mencapai 70.000 ton. PG Kanigoro sendiri memiliki sekitar 200 pekerja dengan sekitar 700 pekerja bila masa giling tiba.Prijastono menambahkan, masa giling tebu di PG Kanigoro hanya bisa berlangsung 60 hari.

    Kurangnya pasokan tebu di wilayah barat ini disebabkan oleh perubahan wilayah kota, yakni banyaknya alih fungsi lahan menjadi perumahan. "Tebu yang masih ada protasnya pun turun. Selain itu di wilayah barat ini juga banyak pabrik gula sehingga berebut pasokan bahan baku tebu," ujar dia.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?