Kredit Mengendur, Laba Bergerak Naik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas tengah menata tumpukan uang di cash center bank BNI Pusat, Jakarta, 16 September 2016. Kementerian Keuangan menunda penyaluran DAU (dana alokasi umum) tahun ini sebesar Rp19,4 triliun. Tempo/Tony Hartawan

    Petugas tengah menata tumpukan uang di cash center bank BNI Pusat, Jakarta, 16 September 2016. Kementerian Keuangan menunda penyaluran DAU (dana alokasi umum) tahun ini sebesar Rp19,4 triliun. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Meski kredit melambat, perbankan terus mencatatkan kenaikan pertumbuhan laba. Setelah naik sebesar 7,43% pada Juni 2016, per Juli 2016 laba bank tumbuh hingga 9,79% secara tahunan.

    Lebih rinci data statistik perbankan Indonesia (SPI) yang dipublikasikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, laba bank umum per Juli 2016 men capai Rp64,85 triliun, sedangkan per Juli 2015 sebesar Rp59,07 triliun.

    Padahal, per Juli 2016 kre dit bank justru mengalami perlambatan. OJK mencatat, penyaluran kredit bank per Juli 2016 sebesar Rp4.130,44 triliun atau tumbuh 7,74% secara year on year (yoy) dari Rp3.833,75 triliun. Sementara itu, pada bulan sebelumnya penyaluran kredit bank tumbuh hingga 8,89% secara yoy.

    Ekonom Universitas Gadjah Mada Toni Prasetiantono mengatakan, kenaikan laba bank pada Juli tahun ini tidak terimbas langsung dari aktivitas penyaluran kredit pada tahun ini pula.

    Menurutnya, kenaikan laba bank hingga Juli ini merupakan hasil dari ekspansi kredit perbankan pada tahun-tahun sebelum nya, ketika kredit masih tumbuh hingga double digit.

    “Ketika sekarang kredit cuma tumbuh 7,7%, itu dampaknya baru terasa tahun depan. Ibaratnya sebuah perusahaan yang capex-nya rendah saat ini akan me rasakan dampak negatif nya baru beberapa tahun depan,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (19 September 2016).

    Selain hal tersebut, Toni menilai kenaikan laba bank di tengah perlambatan penyaluran kredit pun karena faktor lain, seperti kemampuan bank mendapat pendapatan dari selisih bunga atau net interest margin (NIM), upaya bank melakukan efisiensi, memperkuat fee based income, mengelola atau menjaga kredit bermasalah (non-performing loan/ NPL), dan faktor lainnya.

    “Itu tergantung pada bagaimana bank mengendalikan faktor-faktor di atas pula,” katanya.

    Sejalan dengan pandangan tersebut, SPI OJK menunjukkan, pertumbuhan beban bunga perbankan per Juli 2016 memang terus menurun meskipun pendapatan bunga tumbuh lebih rendah dari bulan sebelumnya.

    Per Juli 2016, beban bunga bank hanya tumbuh 1,37% menjadi Rp199,8 triliun, sedangkan pendapatan bunganya tumbuh 6,73% menjadi sebesar Rp394,7 triliun.

    Adapun pada bulan sebelumnya, beban bunga bank tumbuh lebih tinggi, yaitu 2,05% menjadi Rp172,46 triliun walau pen dapatan bunga tumbuh hingga 7,19%.

    BEBAN OPERASIONAL

    Di sisi lain, pertumbuhan beban operasional selain bunga bank per Juli 2016 juga jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya. Per Juli 2016, beban operasional selain bunga bank hanya tumbuh 23,89% menjadi Rp31,48 triliun, sedangkan per Juni 2016 beban operasional selain bunga tumbuh hingga 38,11% menjadi Rp31,46 triliun. Hal ini sejalan dengan upaya regulator mendorong efisiensi bagi perbankan.

    Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatma dja pernah mengatakan selain kredit, pertumbuhan laba perbankan yang signifikan terja di karena faktor lain, yaitu penurunan biaya dana karena dorongan regulator untuk menurunkan bunga deposito.

    Menurutnya, meski per Juli pertumbuhan kredit lebih rendah, laba perbankan pada bulan tersebut pun belum tentu bakal lebih rendah pula.

    “Tidak bisa dieskalasi Harus lihat situasi, perdagangan bagaimana, dan lain-lain,” katanya.

    Sebelumnya, sejumlah bank pun memprediksi pertumbuhan laba pada Semester II/2016 lebih baik dari Semester I/2016. Direktur Keuangan PT Bank Danamon Tbk. Vera Eve Liem pernah mengatakan perolehan laba semester II diharapkan bakal lebih baik dari semester I.

    Adapun hingga paruh pertama tahun ini, Bank Danamon mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 38,49% secara ta hunan menjadi senilai Rp1,73 triliu n dari Juni 2015 senilai Rp1,25 triliun. “Mudan-mudahan . Kemarin kan 38%. Mudah-mudahan semester dua bagus,” katanya.

    Selain itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. juga memprediksi perolehan laba perseroan hing ga akhir tahun masih akan bertumbuh positif meski hingga semester I/2016 mencatatkan penurunan. Paling tidak, laba perseroan akhir tahun akan flat dibandingkan tahun lalu.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.