Peminat Pesawat N219 Berlimpah, Nasir Belum Gagas Ekspor

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pilot Uji PTDI, Esther Gayatri Saleh melakukan pengecekan pada Pesawat N219 sebelum uji coba terbang ke dua di Hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, 23 Desember 2015. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Pilot Uji PTDI, Esther Gayatri Saleh melakukan pengecekan pada Pesawat N219 sebelum uji coba terbang ke dua di Hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, 23 Desember 2015. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Solo -Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir menyatakan pemerintah belum berencana mengekspor pesawat N 219 meski sejumlah negara menyatakan berminat membelinya. Indonesia baru akan memproduksi pesawat tersebut mulai tahun depan. “Kami belum berfikir untuk ekspor,” kata Nasir saat ditemui di Solo, Jawa Tengah, Sabtu, 6 Agustus 2016 malam.

    Nasir mengatakan pesawat N219 memiliki pasar potensial sampai 200 unit. “Itu baru dari dalam negeri,” kata Nasir saat ditemui di Solo, Jawa Tengah, Sabtu, 6 Agustus 2016 malam. Itu belum termasuk, kata Nasir, minat sejumlah negara seperti Myanmar dan Filipina, pada pesawat rancangan para insinyur Indonesia itu.

    Pesawat N-219 merupakan pesawat perintis produksi dalam negeri. Pesawat ini, kata Nasir, memiliki kelebihan sangat sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. Pesawat itu dibanderol sekira US$5 juta. Produk serupa biasa dijual di atas US$7 juta.

    Baca:
    Delapan Unit Pesawat N219 Buatan PTDI Dipesan Malaysia
    Setelah N219, Dirgantara Indonesia dan Lapan Garap N245

    “Pesawat ini hanya butuh landasan pacu 550 meter,” kata dia. Kelebihan ini menjadikan pesawat bisa mendarat dan terbang di setiap kabupaten. Karena pesawat tak memerlukan lahan yang luas untuk bandar udara lokal. “Harganya juga lebih murah,” kata Nasir.

    Persoalannya, kata Nasir, PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional masih menemui hambatan dalam memproduksi pesawat N219. Kemampuan produksi pesawat itu masih sangat terbatas. Dalam satu tahun, Indonesia baru bisa membuat 24 unit saja. “Perlu waktu hingga delapan tahun untuk memproduksi 200 pesawat,” kata dia.

    Baca: Pesawat N219 Buatan PTDI Diuji Terbang Agustus

    Karena keterbatasan itulah, Nasir menegaskan, pesawat N219 yang dibuat nantinya diprioritaskan untuk pembeli dari dalam negeri. Produksi pesawat secara massal diperkirakan bisa dimulai April tahun depan. Adapun sekarang, pesawat masih dalam proses sertifikasi.

    Sertifikasi oleh LAPAN dan PT Dirgantara Indonesia ini sudah memasuki tahap terakhir, yakni bagian wing (sayap) dan landing gear.  Sertifikasi diharapkan tuntas pada November tahun ini. “Agar bisa segera uji coba terbang,” kata dia.

    (Baca: Prototipe Pesawat N219 Masuk Tahap Uji Coba Pendaratan)

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.