Inpex Dikabarkan Lakukan Efisiensi, Terkait Blok Masela?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Kilang Terapung LNG. moskisvet.com

    Ilustrasi Kilang Terapung LNG. moskisvet.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Manajemen Inpex Corporation dikabarkan tengah berbenah guna adaptasi proses bisnis dengan kondisi ekonomi global saat ini. Juru Bicara Inpex Usman Slamet, langkah ini perlu dilakukan untuk keberlanjutan proyek perusahaan di Tanah Air.

    "Penyesuaian organisasi itu wajar dalam rangka menyesuaikan kebutuhan sumber daya dengan pekerjaan saat ini," ujar Usman. Sayang, ketika dihubungi pada Selasa, 1 Maret 2016, Usman enggan menjelaskan detail efisiensi yang dimaksud.

    Usman tak menampik efisiensi perusahaan dilakukan lantaran keputusan revisi proposal pengembangan(Plan of Development) Blok Masela oleh pemerintah yang terkatung-katung. Pemerintah beralasan keputusan diulur karena masih mempelajari efek berganda dari gas Lapangan Abadi di Maluku Selatan ini.

    Kepada Tempo, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas Amien Sunaryadi mengatakan Inpex melakukan efisiensi karyawan dari 400  menjadi 100 orang. Namun, Amien berujar, upaya tersebut masih berupa wacana dari kantor pusat Inpex di Jepang.

    Usman tidak menampik ataupun membenarkan hal ini. "Ada beberapa hal yang masih dalam tahap wacana," ujar Usman.

    Baca Juga: Polemik Blok Masela, Anggota DPR Desak Presiden Turun Tangan

    Inpex menjamin proyek Masela tetap menjadi prioritas perusahaan. Sebab, Inpex diketahui sudah menggelontorkan duit hingga US$ 1,2 miliar dalam rangka penemuan cadangan gas Masela yang mencapai 7,5 MTPA. Kontraktor ini sudah memegang konsesi sejak 1998 lalu.

    Usman juga menjanjikan proyek bakal tetap berjalan sesuai jadwal. Diketahui, jika revisi PoD II disetujui, tahap selanjutnya adalah menyusun rancangan teknis lanjutan (front end engineering design/FEED). Nasib investasi (Final Investment Decision/FID), tetap ditargetkan rampung pada 2018.

    Seperti diketahui Proyek Masela akan mengkomersilkan lapangan Gas Abadi di lepas pantai Kepulauan Tanimbar, Laut Arafura, Maluku Selatan. Letak proyek ini jauh dari jangkauan, berada 500 kilometer di timur Pulau Aru dan 170 kilometer dari Saumlaki, Tanimbar. Kedalaman air di sana mencapai 400 – 800 kilometer. Dengan kapasitas produksi gas yang mencapai 7,5 mtpa, proyek ini rencananya akan dikelola oleh perusahaan asal Jepang, Inpex Corporation yang menggandeng Royal Dutch Shell.

    ROBBY IRFANY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cesium 137 dan Bahaya Radiasi Pada Tubuh Manusia

    Cesium 137 adalah bahan radioaktif yang digunakan berbagai industri dan pengobatan. Bila salah dikelola, bahan itu akan menimbulkan sejumlah penyakit.