Target Serap Gabah Kering Bulog 5.000 Ton untuk Komersil

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Bulog. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi Bulog. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre Sumatra Utara menargetkan penyerapan gabah kering panen untuk komersil dan publik service obligation (PSO) masing-masing sebanyak 5.000 ton pada tahun ini.

    Kepala Seksi Humas Divisi Regional Bulog Sumut Rudi Adlin mengungkapkan bahwa Bulog telah memperoleh instruksi dari pemerintah pusat untuk bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di tiap-tiap daerah untuk meninjau dan membeli gabah kering panen.

    "Target serapan komersil gabah kering panen (GKP) 5.000 ton dan PSO juga 5.000 ton. Artinya, itu bukan menjadi patokan, jadi ketika petani mau menjual ke Bulog maka seberapa banyak pun, kami akan tampung," ungkapnya pada Bisnis, Senin (29 Februari 2016).

    Dia mengungkapkan pada 2014 serapan GKP komersil belum ada, akan tetapi pada 2015 serapan secara komersil telah mencapai 5.000 ton.

    Adapun kehadiran Bulog, katanya, untuk menjaga kestabilan harga.

    Saat harga gabah jatuh maka Bulog akan membeli, sedangkan saat harga di atas ketetapan pemerintah maka Bulog tidak akan membeli, sebab kesejahteraan petani telah terjamin dan meningkat.

    Adapun ketetapan harga pembelian gabah dan beras di dalam negeri sesuai Inpres Nomor 5 Tahun 2015 yakni harga GKP senilai Rp3.700 di tingkat petani dan Rp3.750 di penggilingan.

    Sedangkan harga gabah kering giling (GKG) mencapai Rp4.600 di penggilingan dan Rp4.650 di gudang Perum Bulog.

    Sedangkan harga beras di gudang Perum Bulog mencapai Rp7.300 kg.

    Rudi mengungkapkan, selama ini saat petani panen pengepul langsung menyerap hasil panen petani.

    Dia mengungkapkan jika gabungan kelompok tani (Gapoktan) menjual ke Bulog, maka pihaknya akan menampung sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah.

    Berdasarkan hasil pantauan Bulog, katanya, selama ini petani banyak mencari pinjaman dari pengepul gabah untuk modal bertani, sehingga saat panen, kelompok petani lebih memilih menjual ke pengepul.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.