Penguatan Dolar AS Didorong Data Ekonomi Positif  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang asing. (Euro, dolar Hong Kong, dolar A.S., Yen Jepang, Pounsterling Inggris, dan Yuan Cina).  REUTERS/Jason Lee

    Ilustrasi mata uang asing. (Euro, dolar Hong Kong, dolar A.S., Yen Jepang, Pounsterling Inggris, dan Yuan Cina). REUTERS/Jason Lee

    TEMPO.CO, New York - Kurs dolar Amerika Serikat menguat terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Kamis atau Jumat pagi, 19 Februari 2016, waktu Indonesia barat, setelah laporan lapangan pekerjaan yang keluar dari negara itu positif.

    Pekan lalu, yang berakhir 13 Februari, angka pendahuluan untuk klaim pengangguran awal disesuaikan musiman mencapai 262 ribu, turun 7.000 dari tingkat direvisi pekan sebelumnya 269 ribu. Demikian dinyatakan oleh Departemen Tenaga Kerja AS.

    Rata-rata pergerakan empat pekan mencapai 273.250, turun 8.000 dari rata-rata direvisi pekan sebelumnya 281.250.

    Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang lainnya, naik 0,18 persen menjadi 96,960 pada akhir perdagangan.

    Pada sesi sebelumnya, Federal Reserve merilis risalah pertemuan kebijakan moneter pada Januari. Menurut risalah, para pembuat kebijakan bank sentral khawatir penurunan harga minyak mentah dan kekacauan pasar keuangan global dapat menimbulkan risiko bagi perekonomian AS.

    Pada akhir perdagangan New York, euro jatuh menjadi 1,1092 dolar dari 1,1142 dolar sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,4321 dolar dari 1,4280 dolar. Dolar Australia turun menjadi 0,7154 dolar dari 0,7172 dolar.

    Dolar dibeli 113,57 Jepang, lebih rendah dari 113,83 yen dari sesi sebelumnya. Dolar naik ke 0,9953 franc Swiss dari 0,9916 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3740 dolar Kanada dari 1,3714 dolar Kanada.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.