Faisal Basri: PLN Sebaiknya Ubah Orientasi Bisnis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri menjadi narasumber diskusi yang membahas kebijakan  pengelolaan BBM di Jakarta, 27 Desember 2014. Diskusi tersebut menyoroti rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas untuk menghapus BBM jenis Premium (RON 88) ke BBM RON 92 atau setara dengan pertamax agar APBN-P tidak selalu berubah tiap tahunnya. ANTARA/Andika Wahyu

    Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri menjadi narasumber diskusi yang membahas kebijakan pengelolaan BBM di Jakarta, 27 Desember 2014. Diskusi tersebut menyoroti rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas untuk menghapus BBM jenis Premium (RON 88) ke BBM RON 92 atau setara dengan pertamax agar APBN-P tidak selalu berubah tiap tahunnya. ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat ekonomi, Faisal Basri, menyarankan PT PLN mengubah orientasi bisnisnya. Pasalnya saat ini harga komoditi sedang turun lima tahun terakhir ini. Untuk meningkatkan pendapatan, PLN perlu jeli dalam menilai pasar. "Jadi PLN harusnya more customer oriented untuk  planningnya," kata Faisal di Jakarta, Jumat, 22 Januari 2016.

    Menurut Faisal, harga hampir semua komoditi turun di tahun ini. Komoditas penting seperti minyak kelapa sawit, karet, dan batu bara juga ikut jatuh akibat lesunya perekonomian global. Menurut Faisal di 2016 harga komoditi ini akan terus tertekan. Kemungkinan harga  akan meningkat sedikit pada tahun 2017.

    Akibat dari penurunan harga ini sektor turunannya juga bakal terdampak.  Sektor penghasil barang pertanian, tambang, dan industri juga ikut turun. Untuk itu PLN perlu mengatur strateginya dalam menghadapi hal ini.

    Sektor teknologi informasi dan komunikasi, kesehatan, pendidikan, diperkirakan akan pesat pertumbuhannya. "Pertanian, pertambangan, industri nggak kenceng," ujar Faisal.

    Menurut Faisal, PLN tidak bisa lagi menggantungkan pendapatan pada industri, pertanian dan pertambangan. Pasalnya pertumbuhan dari sektor ini hanya 2 persen. Sementara, untuk sektor jasa pertumbuhannya 6 persen.

    Sektor jasa konstruksi, menurut Faisal,  juga masih berpotensi untuk dilirik. "Jadi kita harus lihat profil pelanggan kita yang dinamis, butuhnya seperti apa, we have to adjust to their needs," ujar dia.

    MAWARDAH NUR HANIFIYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.