Kementerian Kelautan Anggap Eceng Gondok Bernilai Ekonomis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) membersihkan tanaman eceng gondok dan rumput asem-aseman yang menutupi tepian Situ Cipondoh, Kota Tangerang, Jumat (13/7). ANTARA/Iggoy el Fitra

    Petugas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) membersihkan tanaman eceng gondok dan rumput asem-aseman yang menutupi tepian Situ Cipondoh, Kota Tangerang, Jumat (13/7). ANTARA/Iggoy el Fitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan memandang eceng gondok memiliki nilai ekonomis, sehingga akan menjadikan eceng gondok sebagai salah satu sumber bahan baku pengganti dedak untuk perikanan budi daya.

    Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Slamet Soebjakto mengatakan selama ini enceng gondok yang tumbuh di perairan umum masih dianggap sebagai gulma. Padahal, tumbuhan tersebut dapat diolah menjadi tepung pakan ikan.

    “Setelah dibuat tepung, kadar proteinnya mencapai 12,51%, hampir sama dengan dedak halus. Saat ini harga dedak di pasaran Rp4.000/kg, sementara tepung eceng gondok perkiraan harganya sekitar Rp 1.000/kg,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (5 Januari 2016).

    Slamet mengatakan KKP menggaungkan Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI) sejak tahun lalu untuk mendorong kemandirian produksi pakan ikan di kelompok masyarakat. Apalagi, pakan merupakan penyumbang ongkos produksi terbesar dalam usaha perikanan budi daya.  

    Berkaitan dengan itu, KKP meresmikan Mini Plant Pakan Ikan Mandiri di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat. Selain eceng gondok, balai tersebut memanfaatkan bahan baku lokal seperti tepung ikan dan tepung tapioka.

    “Hasilnya pun tidak mengecewakan. Dengan kandungan protein sekitar 30%, sesuai SNI (Standar Nasional Indonesia), dapat dimanfaatkan untuk budi daya lele, nila, dan patin. Harganya pun relatif terjangkau, Rp5.000/kg,” kata pria penyandang gelar doktor pertanian ini.

    Mini Plant Pakan Ikan Mandiri BBPBAT Sukabumi memiliki kapasitas produksi 1,2 ton per hari. Kawasan tersebut akan dijadikan tempat perekayasaan formulasi pakan.

    “Hasil perekayasaan BBPBAT Sukabumi berupa enzim Mina Grow juga dapat dikombinasikan penggunaannya dalam produksi pakan ikan mandiri ini, sehingga semakin meningkatkan efisensi pakan ikan dan pada akhirnya mampu meningkatkan produksi.”

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.