Ini Potensi Nusa Tenggara Timur Menurut Tom Lembong  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Thomas Lembong saat mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 26 November 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Perdagangan Thomas Lembong saat mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 26 November 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Akhir pekan lalu, Menteri Perdagangan Thomas Lembong menuju tapal batas Indonesia-Republik Demokratik Timor Leste, di Motaain, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bersama Gubernur NTT Frans Lebu Raya, pejabat Bupati Belu Williem Voni, dan sejumlah pejabat Kementerian Perdagangan, Tom Lembong meninjau gerai maritim dan pembangunan pasar di perbatasan.

    "Bangunan pasar itu akan menjadi salah satu komponen dengan berbagai pelayanan terpadu di perbatasan, seperti bea cukai, karantina, dan lainnya," kata Tom Lembong Senin, 30 November 2015. Kunjungan itu dilakukan pada Sabtu, 28 November 2015 lalu.

    Berkunjung ke NTT, menurut Tom Lembong, merupakan agenda penting. Sebab, Kementerian Perdagangan sedang mengidentifikasi rencana pembangunan industri yang berbasis potensi lokal. Ia sempat melihat peternakan sapi di Silawan, Belu, dan Pelabuhan Atapupu. Ia ingin melihat dari dekat industri ringan apa yang bisa dibangun di sini guna menunjang kemakmuran masyarakat NTT.

    Peternakan sapi, kata Menteri Perdagangan, memiliki basis budaya. Masyarakat sudah memiliki budaya beternak sapi dan menggunakan sapi untuk kepentingan adat. Selain itu, kebutuhan daging sapi secara nasional terus meningkat. Untuk itu, industri peternakan sapi menjadi alternatif utama untuk didorong agar dibangun di Belu, Atambua, dan Kupang, NTT. "Dalam jangka panjang, industri peternakan sapi ini akan bisa mengurangi impor ternak sapi dan daging sapi," katanya.

    Berdasarkan data Direktorat Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, saat ini Indonesia masih mengalami defisit daging sapi sebesar 237,89 ribu ton atau setara dengan 1,39 juta ekor sapi hidup. Asumsinya, konsumsi daging sapi sebesar 2,6 kilogram per kapita per tahun. Dengan jumlah penduduk 255,4 juta jiwa, kebutuhan daging sapi sebesar 653.982 ton atau setara 3,843 juta sapi hidup. Adapun kemampuan produksi dalam negeri sebesar 2,445 juta ekor sapi. Tahun ini, defisit daging sapi ditutup melalui impor 773,149 sapi hidup dan 83,26 ribu ton daging beku. 

    Tom Lembong juga melihat potensi pengembangan industri peternakan babi yang bisa untuk ekspor. Industri lain yang juga perlu dikembangkan di NTT adalah pertanian jagung. "Kita juga masih impor jagung dengan nilai cukup besar. Wilayah NTT ini sangat cocok untuk mengembangkan pertanian jagung," tuturnya.

    Tom Lembong mengungkapkan, lalu lintas perdagangan nantinya dapat mengembangkan tol laut yang sekarang menjadi program prioritas pemerintah. "Saya bersama Menteri Perhubungan sudah meluncurkan tiga rute tol laut yang menjamin transfer laut secara terjadwal sehingga dapat memberikan kepastian angkutan. Dalam waktu tak terlalu lama, tol laut ini akan melewati pelabuhan-pelabuhan di NTT," katanya.

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.