Ekonom: Tak Ada Dewa Penolong dalam Perlambatan Ekonomi Kini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menghitung mata uang rupiah hasil jual mata uang dolar, di money changer. Mata uang rupiah kini semakin melemah akibat krisis global.  Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    Warga menghitung mata uang rupiah hasil jual mata uang dolar, di money changer. Mata uang rupiah kini semakin melemah akibat krisis global. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics And Finance Enny Sri Hartati mengharapkan paket kebijakan benar-benar dirumuskan dengan tepat untuk meningkatkan akselerasi pertumbuhan perekonomian.

    Langkah kongkret dan tanggap sangat dibutuhkan karena tak ada faktor ekonomi yang bisa diandalkan saat ini. "Tak ada lagi dewa penyelamat seperti krisis 1998," ujar Enny di Jakarta, Sabtu, 29 Agustus 2015.

    Faktor penyelamat yang dimaksud Enny adalah harga komoditas yang tinggi. Saat krisis 1998, dapat mendongkrak pendapatan dan menahan penurunan daya beli masyarakat. Meskipun depresiasi rupiah saat itu cukup tinggi jika melihat minusnya pertumbuhan hingga 14 persen dan inflasi hingga belasan persen.

    Faktor selanjutnya, ujar Enny, adalah daya tahan usaha menengah, kecil, dan mikro saat itu. Hal itu membuat daya beli masyarakat, khususnya rakyat miskin, dapat terjaga dan turut mempercepat pulihnya pertumbuhan ekonomi. Begitu juga dengan reformasi Presiden RI ketiga, B.J. Habibie, yang memperbanyak pembangunan industri.

    "Sekarang faktor-faktor itu sudah tidak ada," katanya. Karena itu Enny mengaku harap-harap cemas dengan kebijakan pemerintah yang akan keluar pekan depan tersebut. "Semoga tak hanya bagus di pembukuannya saja," katanya.

    ANDI RUSLI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.