Rp1,25 Triliun PTPN untuk Topang Efisiensi Perkebunan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani membersihkan abu vulkanis yang menempel di tanaman tembakau di Desa Sido Dadi, Wongsorejo, Banyuwangi, 9 Juli 2015. Hembusan material vulkanis Gunung Raung selama 5 hari terakhir mengakibatkan hujan abu yang merusak tanaman petani di daerah Wongsorejo dan perkebunan Kalibendo. ANTARA/Budi Candra Setya

    Petani membersihkan abu vulkanis yang menempel di tanaman tembakau di Desa Sido Dadi, Wongsorejo, Banyuwangi, 9 Juli 2015. Hembusan material vulkanis Gunung Raung selama 5 hari terakhir mengakibatkan hujan abu yang merusak tanaman petani di daerah Wongsorejo dan perkebunan Kalibendo. ANTARA/Budi Candra Setya

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X menyiapkan investasi Rp1,25 triliun untuk menopang efisiensi dan produktivitas perusahaan dalam 3 hingga 4 tahun ke depan ke 11 cabang pabrik gula di Jawa Timur.

    Dana investasi ini bersumber dari Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp975 miliar dan kas internal senilai Rp150 miliar.

    Direktur Utama Perkebunan Nusantara X Subiyono mengatakan investasi yang siap digunakan akhir tahun ini akan dialokasikan pada tiga sektor, yakni peningkatan kapasitas giling Rp250 miliar, pembangunan proyek co-generation Rp296 miliar dan pengembangan proyek bioethanol Rp579 miliar.

    "Mulai tahun depan kami lebih gencar ke diversifikasi produk pabrik gula. Kalau hanya mengandalkan gula saja, kami tidak berkembang, bisa mati," katanya kepada Bisnis baru-baru ini.

    Dia menjelaskan porsi investasi terbesar yaitu Rp579 miliar bakal dialokasikan untuk mengembangkan proyek bioethanol di kompleks Pabrik Gula (PG) Ngadirejo Kediri. Pabrik tersebut diproyeksikan mengolah limbah cair tebu atau tetes tebu (molasses) menjadi bahan bakar ethanol berkapasitas 30.000 KL per tahun.

    "Pabrik bioethanol di Kediri diharapkan tuntas pada akhir 2017 atau selambat-lambatnya awal 2018," tuturnya.

    Investasi di sektor bahan bakar alternatif diklaim memberi imbal hasil yang potensial. Perhitungannya, apabila harga bioethanol Rp9.200 per liter maka potensi pendapatan yang diraup sebesar Rp276 miliar per tahun.

    "Arah investasi kami di masa mendatang yaitu mewujudkan industri berbasis tebu yang terintegrasi. Kami tidak hanya produksi gula tetapi produk turunan tebu yang lain," ujarnya.

    Investasi terbesar kedua senilai Rp296 miliar akan dialirkan ke pembangunan proyek co-generation yang berkapasitas 50 .Proyek pembangkit listrik berbasis limbah padat tebu atau ampas tebu ini bakal dibangun di PG Ngadirejo Kediri sebesar 20 MW, PG Tjoekir Jombang 10 MW dan PG Gempolkrep Mojokerto 20 MW.

    Tiga co-generation diharapkan menghasilkan 360 GWH dalam waktu 300 hari.

    "Jika harga listrik biomassa seperti ditetapkan pemerintah dipenuhi yaitu Rp1.150 kWh maka potensi pendapatannya Rp414 miliar, ujarnya.

    Investasi terakhir digunakan untuk peningkatan kapasitas giling dan rendemen senilai Rp250 miliar. Rencana itu diinvestasikan untuk peningkatan kapasitas giling PG Tjoekir Jombang dari 4.000 ton tebu per hari atau TCD (ton cane per day) menjadi 4.800 TCD dan PG Gempolkrep Mojokerto dari 6.500 TCD menjadi 7.200 TCD.

    "Kami targetkan dampaknya bisa terasa tahun depan. Misal di PG Tjoekir ditargetkan rendemen di atas 8,5% dari posisi saat ini 7,32%," terangnya.

     

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.