Pendapatan Premi Bakal Turun Karena Ekonomi Lesu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi asuransi. piperreport.com

    Ilustrasi asuransi. piperreport.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia memprediksi pendapatan premi industri asuransi jiwa akan meluncur turun akibat terpangkasnya daya beli masyarakat dan lesunya kondisi pasar finansial pada kuartal II/2015.

    Merujuk data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pada kuartal II/2014, pendapatan premi sempat tumbuh 11,5% diiringi dengan kenaikan total aset dan hasil investasi masing-masing 16,1%, dan 12,7% dibandingkan kuartal II/2013.

    “Angka pastinya belum keluar karena belum selesai dihitung. Tetapi, perkiraan memang ada penurunan pada kuartal kedua tahun ini karena perlambatan ekonomi pada saat yang sama,” kata Ketua AAJI Hendrisman Rahim di Jakarta, seperti dikutip Bisnis.com, Selasa (21 Juli /2015).

    Selain perlambatan ekonomi yang memangkas daya beli masyarakat, Hedrisman mengungkapkan beberapa konsumen pemegang polis berdenominasi dolar terlihat mengalihkannya ke denominasi rupiah karena depresiasi rupiah belakangan ini.

    Fenomena yang sama juga terlihat pada kuartal awal tahun ini, sejumlah pemegang polis membatalkan polisnya dan menarik sebagian dananya karena didorong oleh aksi ambil untung dan penguatan dolar.

    Pada saat yang sama, aksi tersebut langsung mengerek naik jumlah klaim hingga 57,8% menjadi Rp22,64 triliun dibandingkan dengan kuartal I/2014. Hasil investasi tercatat turun 12,5% menjadi Rp11,93 triliun.

    “Saya kira, pada semester I/2015, kondisi pasar finansial sedang terpuruk sehingga mempengaruhi kinerja investasi industri asuransi jiwa,” jelasnya.

    Portofolio terbesar masih didominasi oleh reksadana, saham, obligasi, deposito berjangka, dan surat berharga negara pada kuartal I/2015.
    AAJI sendiri memprediksi alokasi investasi asuransi jiwa tidak akan banyak berubah hingga akhir tahun.

    “Investasi asuransi jiwa sangat dinamis, tetapi saya rasa komposisinya tidak akan berbeda jauh. Reksadana dan saham masih cukup diminati
    karena imbalnya cukup bagus,” tekannya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.