Intiland: Ekspansi Kawasan Industri Jombang & Demak Ditunda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana perluasan Kawasan Industri Tugu Semarang (30/9). Perluasan dilakukan untuk mengantisipasi Rencana Peraturan Pemerintah, bahwa pada 2020 semua industri masuk Kawasan Indsutri. Foto: TEMPO/Budi Purwanto

    Suasana perluasan Kawasan Industri Tugu Semarang (30/9). Perluasan dilakukan untuk mengantisipasi Rencana Peraturan Pemerintah, bahwa pada 2020 semua industri masuk Kawasan Indsutri. Foto: TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Intiland Development Tbk menunda ekpansi kawasan industri di Jombang dan Demak pada tahun ini. Perusahaan berkode emiten DILD itu kini hanya fokus kepada penjualan lahan di Ngoro Industrial Park yang diklaim sedang melambat.

    Wakil Presiden Direktur dan Chief Operating Officer Intiland Suhendro Prabowo menuturkan pada tahun ini pihaknya bakal mengerem ekspansi kawasan industri terkait lemahnya daya beli. Sebelumnya, perusahaan memproklamasikan bakal merambah Jombang dan Demak untuk dijadikan kawasan industri.

    Adapun kawasan yang sudah masuk proses pembebasan lahan itu rencananya bakal diluncurkan pada kuartal II//2015. Namun, karena keadaan yang tidak memungkinkan, ekspansi tersebut terpaksa ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan.

    "Tahun ini kawasan industri cukup Ngoro Industrial Park saja, belum ada rencana kemana-mana. Fokus dulu jualan di sana," katanya, Sabtu (27 Juni 2015).

    Suhendro menerangkan penjualan lahan di kawasan industri yang berlokasi di Mojokerto, Jawa Timur itu sedang jalan di tempat. Padahal, lokasi seluas 500 ha tersebut dinilai sebagai gerbang masuk industri di area Indonesia Timur.

    Bahkan, Intiland mencatat per Maret 2015 pihaknya belum membukukan penjualan di Ngoro Industrial Park. Hal ini bertolak belakang dengan kondisi tahun lalu di mana kawasan industri mampu menyumbang prapenjualan Rp360 miliar.

    Keadaan tersebut, lanjut Suhendro, tidak hanya dialami di kawasan industri Jawa Timur saja. Menurutnya, hal yang sama juga dialami oleh pengembang kawasan industri di kota-kota lainnya seperti Cikarang atau Cilegon.

    Menurutnya, menjual lahan pada tahun ini merupakan hal yang berat. Pasalnya, investor belum berkeinginan berinvestasi secara masif di Indonesia.

    Padahal jika menelisik dua tahun lalu, perusahaan-perusaahan asing aktif melebarkan sayap di Ngoro Industrial Park. Hampir semua perusahaan membeli lahan di atas 10 ha.

    Investor yang bertandang kemari porsinya sama, tidak ada yang mayoritas memegang lahan. Mereka dari Jepang, Peru, Perancis, Taiwan dan Thailand, terangnya.

    Adapun industri di Ngoro Industrial Park tidak hanya berfokus pada satu segmen saja seperti otomotif tetapi merata dari produk makanan, produk perawatan bayi, keramik hingga alat elektronik.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).