Proyeksi 2018: Industri Unggulan Ini Jadi Tumpuan Pertumbuhan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Industri tekstil. TEMPO/Prima Mulia

    Industri tekstil. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Pergerakan sektor industri dipercaya masih akan jadi salah satu tumpuan pertumbuhan ekonomi di tahun 2018, terutama karena kemampuannya menyerap banyak tenaga kerja. Meski tren mulai bergeser ke arah digital, sektor industri konvensional tetap tak tergoyahkan.

    Meski begitu, sejumlah tantangan baik dari dalam maupun luar negeri diperkirakan bakal masih membayangi pergerakan industri tersebut. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,3 persen dengan didorong oleh ekspor minyak sawit mentah (CPO), batu bara dan sektor jasa.

    “Sayangnya sektor manufaktur masih belum akan pulih,” seperti dikutip dari publikasi LPEM UI akhir pekan lalu di Jakarta. “Sektor manufakatur harus diseriusi untuk menghentikan tanda-tanda deindustrialisasi. Subsektor makanan dan minuman bisa menjadi andalan.”

    Baca: Menperin Sebut 6 Sektor Pendongkrak Pertumbuhan Industri 2018

    Sementara pemerintah menargetkan pertumbuhan industri non minyak gas (nonmigas) tumbuh 5,67 persen pada 2018 dengan ditopang sejumlah sektor industri unggulan. Sektor industri unggulan itu adalah industri makanan dan minuman, industri farmasi, hingga industri logam dasar.

    Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adinegara memperkirakan sektor industri makanan dan minuman tumbuh di atas 10 persen tahun depan. Sektor ini akan terdorong belanja politik hingga 2019 mendatang.

    Sementara industri logam dasar diproyeksi akan melanjutkan tren positifnya. Hingga triwulan III 2017, industri tersebut tumbuh 10 persen. Tahun depan industri logam dasar akan didorong belanja infrastruktur sebesar Rp 410 triliun dan pemulihan sektor properti.

    Bhima mengatakan industri mesin perlengkapan tumbuh stabil di angka 6-7 persen. "Meningkatnya produksi manufaktur tahun depan menjadi motor permintaan industri mesin dalam negeri," ucapnya. Industri lain yang diperkirakan berkembang tahun depan adalah tekstil dan pakaian jadi seiring peningkatan permintaan negara tujuan ekspor yakni Amerika dan Eropa. Namun ia pesimistis dengan industri kimia farmasi, industri pengolahan tembakau serta industri kayu yang diprediksi tumbuh terbatas.

    Tren harga minyak mentah yang belakangan naik, menurut Bhima, harus diwaspadai karena bakal berimbas pada harga gas dalam negeri yang sangat dibutuhkan oleh industry domestik. Pada pertengahan Desember 2017 tercatat harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Januari naik US$ 0,63 menjadi US$ 57,99 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara patokan global, minyak mentah Brent North Sea, untuk pengiriman Februari harganya naik US$ 1,29 menjadi US$ 64,69 per barel di London ICE Futures Exchange.

    Dengan kinerja pertumbuhan industri pengolahan nonmigas 5,49 persen pada kuartal ketiga tahun lalu, di masa mendatang posisi industri diyakini akan tetap baik.  “Industri masih menjadi kontributor terbesar bagi perekonomian nasional. Pada kuartal tiga tahun ini, menyumbang sebesar 17,76 persen atau tertinggi dibanding sektor lainnya,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Jumlah tenaga kerja terserap di industri pun naik dari 15,54 juta orang tahun 2016 menjadi 17,01 juta orang pada 2017.

    Sementara itu, ekonom dari PT Perusahaan Pengelola Aset Kapital, Ferry Latuhihin, memprediksi sektor pariwisata bakal menjadi motor pertumbuhan khususnya dari sektor jasa di tahun 2018. “Sektor manufaktur serta pertanian tetap prospektif, tapi pertumbuhan manufaktur turun.”

    Adapun Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan, memperkirakan pasar properti nasional di tahun 2018 akan lebih positif. “Ini didorong oleh kenaikan permintaan dari masyarakat kelas menengah dan tren penurunan suku bunga kredit,” katanya. Di sisi suplai, perlambatan pasar properti pada pertengahan 2018 hanya akan terjadi sebagai dampak hari raya Idul Fitri serta pilkada serentak.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa pemerintah mengutamakan investasi dan ekspor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tahun depan. Pernyataan ini diungkapkan Sri sebagai tanggapan atas proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) soal pertumbuhan ekonomi Indonesia. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,3 persen tahun depan.

    Angka ini lebih rendah dibanding proyeksi pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang mencapai 5,4 persen. Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan mencermati faktor-faktor yang melandasi proyeksi IMF. "Apakah dari pengaruh faktor konsumsi," ujar dia.

    Dalam pertemuan dengan jurnalis senior media nasional beberapa waktu lalu, Kepala Departemen Asia dan Pasifik IMF, Luis Enrique Breuer, mengatakan perekonomian Indonesia terus berjalan dengan baik. Senada dengan Sri, Breuer mengatakan kenaikan ekspor dan investasi akan menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan.

    Agar target pertumbuhan ekonomi tahun depan tercapai, IMF mengingatkan pemerintah untuk menjaga beberapa hal, yakni disiplin finansial, tingkat inflasi, dan stabilitas makro-ekonomi, serta meningkatkan kemampuan bereaksi terhadap faktor eksternal. Pemerintah Indonesia, kata Breuer, harus waspada terhadap beberapa faktor seperti pertumbuhan ekonomi global yang masih lambat, lesunya perekonomian Cina, dan rencana kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang dikhawatirkan menyedot investasi.

    IMF pun meminta pemerintah Indonesia mengurangi ketergantungan pada sektor komoditas dan mempercepat pengaruh investasi infrastruktur pada perekonomian secara keseluruhan. Menurut Breuer, pemerintah akan menghadapi risiko fiskal jika proyek infrastruktur mangkrak.

    Ke depan, menurut Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih, tak hanya sektor finansial tapi seluruh sektor bisnis, termasuk manufaktur secara alamiah bakal mengalami pergeseran (shifting) ke digital. Proses digitalisasi diperlukan demi kelangsungan bisnis manufaktur di tengah persaingan yang semakin maju.

    Lana mengatakan, ada dua model digitalisasi yang ada dihadapkan kepada sektor manufaktur. Pertama, yakni proses digitalisasi dan komputerisasi dalam hal permesinan. Kedua, digitalisasi dalam proses memperluas market place dengan menggandeng e-commerce.

    Lana mengatakan, digitalisasi di sektor bisnis logam dasar, alat angkutan, mesin dan perlengkapan dapat dilakukan dengan komputerisasi. “Ini mau tidak mau harus diadopsi supaya lebih efisien dan membuat biaya produksi lebih murah,” ujarnya.

    Hal senada disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang menyebutkan revolusi industri keempat atau Industry 4.0 tidak bisa lagi dihindari. Fase ini menuntut agar setiap sektor produksi di industri sudah terintegrasi secara online.

    HENDARTYO HANGGI | ROSSENO AJI NUGROHO | YANDHRIE ARVIAN | GHOIDA RAHMAH DIAS PRASONGKO | VINDRY FLORENTIN  | TAUFIQ SIDDIK | SYAFIUL HADI | BUDIARTI UTAMI PUTRI | ANDI IBNU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.