Ogah Bayar Pajak, Warga Korea Ini Terpaksa Disandera  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. azpenalreform.a

    Ilustrasi. azpenalreform.a

    TEMPO.COJakarta - Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menyandera penanggung pajak yang merupakan warga negara Korea berinisial HJH. Penunggak ini ditangkap di Tangerang, Banten, pada Kamis, 18 Juni 2015.

    "Dia salah satu target kami," ujar Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus Muhammad Haniv di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Salemba, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Juni 2015.

    HJH adalah Direktur Utama PT TM, yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Enam (KPP PMA 6). Kini HJH disandera di LP Salemba sejak Kamis petang lalu.

    Tersandera diketahui menunggak pajak sebanyak Rp 2 miliar. Sebelumnya, Subdirektorat Penagihan Pajak telah meminta HJH melunasi pajaknya Namun warga Negeri Ginseng tersebut malah kabur ke negeri asalnya.

    Keberadaan HJH yang sudah datang di Indonesia dilaporkan Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia ke Ditjen Pajak. HJH diketahui datang untuk menandatangani faktur. "Setelah tanda tangan, kami langsung meringkusnya dan membawa ke lapas," ujar Kasubdit Penagihan Ditjen Pajak Lindawaty.

    Ide penyanderaan HJH sudah muncul sejak awal Juni lalu. Buktinya, Kementerian Keuangan sudah meneken surat izin penyanderaan nomor SR-1725/MK.03/2015 pada 9 Juni 2015.

    Haniv berharap penyanderaan ini bisa membuat penunggak pajak takut dan segera melunasi utang pembayaran. Kini Kementerian sudah mengantongi surat perintah penyanderaan terhadap 14 wajib pajak.

    HJH bakal ditahan hingga enam bulan ke depan di LP Salemba. Jika manut membayar pajak, ia akan dibebaskan.

    "Kami yakin ini akan menimbulkan deterrent effect bagi penunggak lain," tutur Haniv.

    ROBBY IRFANY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.