Yongki Komaladi, Produk Indonesia Mampu Bersaing

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengrajin menyelesaikan pembuatan sepatu wanita di industri rumahan di Ciomas, Bogor, 21 Mei 2015. Industri rumahan ini juga melayani pesanan dari beberapa merek sepatu terkenal di Indonesia seperti Fladeo, Sophie Martin, Yongki Komaladi. TEMPO/Lazyra Amadea Hidayat

    Pengrajin menyelesaikan pembuatan sepatu wanita di industri rumahan di Ciomas, Bogor, 21 Mei 2015. Industri rumahan ini juga melayani pesanan dari beberapa merek sepatu terkenal di Indonesia seperti Fladeo, Sophie Martin, Yongki Komaladi. TEMPO/Lazyra Amadea Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Yongki Komaladi yang mengawali karir dari merancang sepatu pria tersebut optimis produk Indonesia mampu bersaing dengan produk negara lain, asal didukung komitmen kuat dari semua pihak, termasuk pemerintah, dan optimisme dari pengusaha bersangkutan untuk terus berinovasi dan berkreasi.

    Perancang sepatu Yongki Komaladi berhasil meraih dua penghargaan dalam kompetisi ketujuh rancangan sepatu internasional (International Footwear Design Competition/IFDC), Guangzhou, Cina, pada 1-3 Juni 2015.

    "Ini kebanggaan tersendiri bagi saya, dan bagi Indonesia," katanya, dalam obrolan melalui saluran telepon dengan Antara di Beijing, Senin malam.

    Perancang sepatu kelahiran 8 Agustus tersebut, berhasil meraih penghargaan untuk kategori sepatu anak dan sepatu santai wanita. "Ada sekitar 20 model sepatu yang saya tampilkan. kedua puluh model tersebut merupakan hasil seleksi dari sekian karya di Jakarta dan Surabaya," ungkap Yongki.

    Mantan model tersebut menambahkan dalam kompetisi itu tidak ada tema khusus bagi setiap karya yang dilombakan. "Secara umum saja yakni transformasi globalisasi," katanya.

    Yongki mengatakan apa yang diraihnya membuktikan rancangan putra Indonesia tidak kalah dengan rancangan negara lain.

    "Era pasar bebas tidak mungkin kita hindari, dan untuk menghadapinya perlu inovasi yang terus menerus, dalam setiap apapun yang kita rancang, apakah itu sepatu, tas dan pakaian," tuturnya.

    Yongki menambahkan,"Indonesia memiliki beragam budaya yang dapat menjadi sumber inspirasi dalam berkarya, sumber inovasi yang akan dikembangkan dalam sebuah rancangan, termasuk sepatu. Itu modal sangat besar, dan jelas, desain kita itu original, tidak seperti beberapa negara yang hanya mengembangkan produk dengan motif meniru karya lain,".


    "Globalisasi, pasar bebas, pasti ada nilai positif dan negatifnya. tergantung bagaimana kita menyikapinya," kata Yongki.

    Sementara itu Konjen RI di Guangzhou Ratu Silvy Gayatri mengatakan pihaknya senantiasa berupaya untuk memperkenalkan dan mempromosikan produk kreatif dan produk lainnya dari Indonesia.

    "Di Cina, khususnya Guangzhou, banyak sekali kegiatan promosi dan pameran dagang yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk semakin memperkenalkan produknya. Sekaligus melihat peluang untuk melakukan penetrasi pasar Cina yang besar," katanya.

    Ratu Silvy menambahkan,"semua memang tergantung kita menyikapi dinamika yang terjadi dalam perekonomian dunia, perlu peran semua pihak baik pemerintah, maupun pengusaha,".

    Tentang produk Indonesia di Guangzhou, Ia mengemukakan,"masih didominasi oleh makanan atau kuliner, yang lainnya palm oil,".

     

    ANTARA

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.