Konsumsi Karet Akan Dimaksimalkan Demi Nilai SDA Nasional

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang buruh karet mengumpulkan getah karet yang telah disadap dil ahan perkebunan karet Perusahaan Daerah Perkebunan Gunung Pasang, desa Kemiri, Jember, Senin (6/11). Dalam sehari masing-masing buruh mampu mengumpulkan 25 kilogram getah karet dengan upah Rp 4500 perkilo. TEMPO/Fully Syafi

    Seorang buruh karet mengumpulkan getah karet yang telah disadap dil ahan perkebunan karet Perusahaan Daerah Perkebunan Gunung Pasang, desa Kemiri, Jember, Senin (6/11). Dalam sehari masing-masing buruh mampu mengumpulkan 25 kilogram getah karet dengan upah Rp 4500 perkilo. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah berupaya untuk menggenjot konsumsi karet alam domestik untuk meningkatkan nilai tambah potensi sumber daya alam nasional, demikian disampaikan Menteri Perindustrian Saleh Husin.

     "Konsumsi karet alam domestik untuk memproduksi barang-barang karet hanya mencapai sekitar 18 persen dari total produksi nasional," kata Menperin Saleh Husin pada acara pembukaan Pameran Produk Karet Hilir di Plasa Kemenperin Jakarta, Senin.

     

    Menperin mengatakan, tingkat konsumsi domestik Indonesia tersebut masih jauh dibawah Malaysia, Tiongkok dan India yang telah menyerap lebih dari 40 persen produksi karet alamnya.

     

    Untuk itu, lanjut Menperin, Kemenperin mendukung dan mendorong pertumbuhan industri barang-barang karet dalam rangka merealisasikan program peingkatan konsumsi karet alam dalam negeri melalui beberapa kebijakan.

     

    Beberapa kebijakan tersebut adalah melakukan penguatan struktur industri barang-barang karet, pemberian insentif untuk industri berteknologi tinggi maupun industri berorientasi ekspor, pengembangan kawasan industri dan mendorong investasi karet sintetis dan kimia karet.

     

    "Kami akan fokus pada hilirisasi karet alam nasional, sehingga serapannya bisa naik dan memberikan nilai tambah," kata Menperin.

     

    Industri pengguna karet alam di Indonesia 55 persen dimanfaatkan oleh industri ban; 17 persen oleh industri sarung tangan karet, benang karet dan kondom; 11 persen oleh industri alas kaki; dan 9 persen barang-barang karet.

     

    ANTARA

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.