Harga Karet Turun, Indonesia dan Dua Negara Ini Kurangi Ekspor

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita menyayat batang pohon karet untuk diambil getahnya di perkebunan karet provinsi Yala, Thailand, 30 Januari 2017. Harga jual karet di Thailand melonjak tinggi akibat banjir merendam sejumlah perkebunan karet di wilayah Thailand. REUTERS/Surapan Boonthanom

    Seorang wanita menyayat batang pohon karet untuk diambil getahnya di perkebunan karet provinsi Yala, Thailand, 30 Januari 2017. Harga jual karet di Thailand melonjak tinggi akibat banjir merendam sejumlah perkebunan karet di wilayah Thailand. REUTERS/Surapan Boonthanom

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketiga negara produsen utama karet alam (natural rubber) dunia yakni Thailand, Indonesia dan Malaysia sepakat mengurangi ekspor sebanyak 200.000 sampai 300.000 metrik ton. Pengurangan rencana ekspor ini bertujuan untuk mengatasi harga karet alam dunia yang terus tertekan.

    simak: Ekspor Komoditas Pertanian Sulsel ke 3 Negara Capai Rp 241,73 M

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan skema pengaturan ekspor atau disebut Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) merupakan salah satu keputusan yang diambil pada pertemuan International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang diinisiasi tiga negara produsen karet tersebut.

    "Ketiga negara sepakat mengurangi ekspor karet sebesar 200.000 sampai 300.000 ton setahun. Perhitungan rinci dan pelaksanaannya akan dibahas kembali oleh para pejabat pemerintahan masing-masing tanggal 4 Maret mendatang," kata Menko Darmin pada konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Senin 25 Februari 2019.

    Darmin menjelaskan penerapan AETS untuk mengurangi ekspor dari ketiga negara tersebut berlaku untuk jangka waktu tiga bulan ke depan. Rincian dan pelaksanaan AETS ini akan didiskusikan kembali pada pertemuan Senior Official Meeting (SOM) ITRC pada 4 Maret mendatang di Thailand.

    Ada pun kontribusi produksi karet alam dari masing-masing negara, yakni tertinggi dari Thailand sebesar 52 persen, Indonesia 38 persen dan sisanya Malaysia 10 persen.

    Menurut Darmin, kebijakan pengurangan ekspor ini penting untuk mengembalikan harga karet alam ke harga fundamentalnya. Saat ini harga karet ekspor sekitar 1,45 dolar AS per kilogram dan di tingkat petani hanya Rp7.000 sampai Rp7.500 per kg.

    Ia menilai turunnya harga karet ini salah satunya karena pasar berjangka di bursa komoditi dunia, seperti di Shanghai, menganggap pasokan melimpah.

    Padahal pada tahun lalu, pasar karet dunia hanya surplus 167.000 ton yang berasal dari produksi berkisar 13,5 juta ton dan konsumsi yang berkisar 13,4 juta ton.

    "Kenapa kebijakan ini perlu dilakukan, sekaligus untuk menunjukkan pada pasar bahwa kita surplusnya tidak banyak-banyak sekali," katanya.

    Ada pun pengaturan jumlah ekspor karet alam merupakan satu dari tiga kebijakan yang diputuskan dalam pertemuan khusus International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang diinisiasi tiga negara produsen karet, yakni Indonesia, Malaysia, dan Thailand, pada 22 Februari 2019 di Bangkok, Thailand.

    Untuk mengatasi harga karet alam yang berada di level rendah sepanjang 2018 hingga awal 2019, ada tiga kebijakan yang akan diterapkan, baik untuk jangka pendek, menengah, dan panjang dengan mengatur jumlah ekspor karet alam, peningkatan penggunaan karet alam di dalam negeri, dan peremajaan (replanting) karet alam.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.